Jangan Kau Gadaikan Jiwa Nusantara mu

Garuda Panca Sila

Panca Sila

Adalah hasil dari penggalian yang sedalam-dalamnya di dalam jiwa rakyat Nusantara sendiri. Di dalam Panca Sila ada dua sifat, yaitu statis dan dinamis. Statis tujuannya mempersatukan, dan dinamis tujuannya tuntunan atau arah perjalanan bangsa Indonesia sendiri. Dasar yang statis harus terdiri dari elemen-elemen di mana “di dalamnya ada jiwa Indonesia”. Kalau kita tidak mempersatukan elemen-elemen jiwa Indonesia, maka tidak mungkin dibangun dasar untuk negara Indonesia dengan jiwa bangsa Indonesia.
Saat ini semua berubah, kita telah memasukkan elemen-elemen asing ke dalam jiwa bangsa Indonesia, maka ini tidak akan menjadi dasar yang sehat dan kuat, apalagi untuk mempersatukan jiwa rakyat Indonesia. Sadar atau tidak sadar, kita telah melanggar hukum alam dalam jiwa bangsa ini sendiri. Karena hakekat dan jiwa kaum dan bangsa ini, yang telah dipersatukan dalam satu wadah yang diberi nama bangsa Indonesia, telah dilanggar dari segala elemen-elemen yang bukan jiwanya sendiri.

Pada saat catatan dibuka, bahwa para leluhur bangsa ini telah mempersatukan jiwa-jiwa manusia yang ada dalam ketertindasan dijajah oleh bangsa asing, dan dengan Baca lebih lanjut

Kaweruh Urip (Pencerahan dalam kehidupan)

Mohon maaf semoga ini menjadi perenungan dan pencerahan kepada diri sendiri terutamanya dan kepada yang lain bila berkenan… 

Perkembangan kearah Kebenaran tidak akan pernah berhenti. Ibarat dian/senthir yang menyala,tidak akan padam,sekalipun dihembus angin kencang atau dilanda badai sekalipun,ia menyala dan terus menyala(tan mobah mosik kasindung riwut angin prahara).Menyala menerangi jagad raya sebagai penyuluh abadi setiap insan didalam kehidupannya(sumunar cahyaning dhiri hamadangi jagad).Arahnya sudah pasti yaitu Suyud tanpa pamrih kepada Kang Murbeng Dumadi.

Jalan Spiritual adalah cukup rumit dan berliku-liku,dengan banyak sekali jebakan-jebakannya yang tersebar diperbagai tempat perjalanan dan setiap saat mengintai hantu kesesatan.Olah karena itu manusia menyusun berbagai macam Kawruh yang diciptakan berdasarkan pengalaman pribadi yang diterapkan dengan kenyataan yang ada.Karena sifatnya sangat subyektif inilah timbul berbagai jalan,yang satu sama lain mungkin bisa ketemu dan mungkin tidak.Karenanya tidak jarang kalau pada suatu saat tertentu bisa terjadi pertentangan pendapat dimana masing2 pribadi memegang kebenarannya sendiri.

Hendaknya bagi orang yang Baca lebih lanjut

SAMPURNANING LELAKUNING MANUNGSA MANEMBAH ING NGARSANING GUSTI KANG MAHAKUASA

Aja lali merga iki sayekti
Bèn bisa waluya tumekèhing sejati
Amung siji bèn isa ngerti
Saya tuwa dadiné mukti
Liya-liya aja dipercaya
Amarga dudu ana
Sing ana amung sira
Lelana ngudi waluya
Kabèh mau wéké sapa
Kandha-kandha aja dipercaya
Amung sira sing ngerti
Biyèn ana apa
Saiki wis ngerti amerga dudu kuwi
Ayo diayati bèn dadi siji
Kabèh ngabekti bèn aja lali
Mung saiki sira ngerti aja lali
Mujudké pisowanan sejati
Aku luhur putra sejati
Nggawé isèn-isèn ning dadi siji
Wurung ra wurung padha bali
Niscaya bakal wedi
Bèn sira ora wedi amung sejati
Dhuk ing uni sira wis ngerti
Bali sowang-sowang ana lati
Jingga suwala aja dimangerti
Amung rasa isa sejati
Jak bèn wani nata sejati
Iku waluya merga ngerti
Sing dadi ngabekti sing nggawa siji
Bukti ana mburi
Apa sapa kudu ngerti
Amerga dudu kuwi sing penting ngabekti
Iya ngono ning aja ngono
Lho apa sapa mung waè ngerti
Dadi siji iku muktiè
Liya ana coba rungokna
Sapa sing sida mukti iya percaya
Bagus dudu rupa jané sapa
Wis sing mahakuasa iku sapa
Amung sira sing pirsa merga percaya
Ana loro iku sapa
Iku dudu sapa-sapa Baca lebih lanjut

Indonesia: Telah Membunuh Tuhan ?

Membunuh Tuhan? Mungkinkah? Ini merupakan sebuah pertanyaan besar yang mengandung unsur reflektif dan siapapun memang wajib untuk merefleksikannya dalam diri sendiri.

Berangkat dari Friedrich Nietzsche

Nama Friedrich Nietzsche begitu terkenal karena pernyataan frontalnya yang menyebutkan bahwa Tuhan itu sudah mati dan seandainya Tuhan itu masih ada, sudah menjadi kewajiban kita untuk membunuhnya.

Adanya Tuhan, dari perspektif  Nietzsche, menyebabkan adanya sebuah sikap ketergantungan berlebihan yang mengakibatkan manusia stagnan dan kehilangan kreativitasnya. Nietzsche sendiri bisa dibilang sebagai perngkritik Kristen yang baginya dinilai sangat membatasi perilaku-perilaku manusia seperti misalnya perkara mengenai seksualitas.

Bagi Nietzsche, kematian Tuhan ini adalah sesuatu yang mutlak terjadi. Hal ini pada awalnya akan membangkitkan sebuah nihilisme, yakni Baca lebih lanjut

Berlayarlah Indonesiaku !!!

 

Berkibarlah Sang Saka Merah Putih

Indonesia itu tidak berani berlayar. Itulah yang selalu ada dalam pikiran saya. Padahal kapal sudah ada, lengkap dengan segala cadangan-cadangannya jika saja suatu saat kapal itu hendak karam atau ada barang satu atau dua komponen yang rusak. Indonesia itu punya semua! Angin sudah berhembus menuju samudera, layar sudah mengembang, sayang nahkoda dan awaknya tidak bersinergi dengan baik.

Mengapa gerangan ini terjadi? Tidak beranikah kau, Indonesia, melepas jangkarmu? Melepas tali tambatmu pada pulau-pulau penghasil buaian mimpi-mimpi semu pencipta kemalasan dan keegoisan? Awak itu sama dibodohinya dengan nahkodanya. Tidak juga disejahterakan, tidak juga didik dengan baik. Mungkin, awak itu tidak mengerti bagaimana Baca lebih lanjut

Indonesia Bukan Negara Agama

Mengakui adanya keberagaman memang lebih mudah untuk dilakukan sebatas pengucapan melalui mulut, namun untuk bisa hidup berdampingan dalam suatu pengakuan akan adanya keberagaman lebih sulit untuk dilakukan.

Hal yang seringkali membuat hidup dalam keberagaman itu terasa sulit adalah karena adanya arogansi dan dominansi oleh kalangan mayoritas dalam lingkungan tersebut. Adanya tekanan-tekanan terhadap mereka yang tidak sepaham dengan kaum mayoritas menimbulkan ancaman terhadap eksistensi kelompok-kelompok lain dan pada akhirnya terjadinya sebuah monopoli kebenaran di lingkungan tersebut, menganggap yang berada di luar mayoritas adalah sebuah kesalahan dan harus ditiadakan dari lingkungannya.

Keberagaman agama dan kerukunan

Agama yang diakui saat ini di Indonesia berjumlah enam buah, yakni Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu. Keberagaman dalam agama ini tentunya akan memaksa setiap orang memiliki probabilitas yang tinggi untuk hidup berdampingan dengan tetangganya yang berbeda agama. Apalagi, hal ini juga diperkuat dengan jaminan langsung dari pemerintah mengenai kebebasan dalam memilih agama dan kepercayaan sehingga menjadi bebas pula setiap orang untuk memilih agamanya tanpa desakkan dari pihak-pihak manapun, termasuk orang-orang di sekitarnya.

Mengakui bahwa adanya keberagaman agama di Indonesia itu sendiri memang mudah. Hal ini tampak secara normaif karena agama-agama ini sudah diakui oleh pemerintahan Indonesia sendiri.

Namun, mengakui adanya keberagaman agama di Indonesia dalam sebuah ranah sosial dimana Baca lebih lanjut

Agama: Sesuatu yang Tidak Benar dan Tidak Salah

Apakah ada kebenaran di dalam agama, sesuatu yang telah menjadi pedoman bagi hampir seluruh umat manusia selama sekitar ratusan hingga ribuan tahun? Masing-masing agama memang mengklaim bahwa ada kebenaran di dalam dirinya; entah itu melalui konsep Tuhan yang dikonsepsikan melalui dogma maupun melalui Kitab Suci agama masing-masing ataupun melalui paham-paham yang mereka yakini sendiri. Namun, yang menjadi pertanyaan besar adalah, apakah betul bahwa agama itu memang betul-betul mengandung sebuah kebenaran?

Kebenaran diyakini sebagai segala sesuatu yang tidak lagi bisa dibantah, mengandung sesuatu yang absolut dan dapat diterima oleh semua kalangan. Berangkat dari pernyataan ini, kita akan melihat apakah agama itu bisa disebut mengandung sebuah kebenaran yang absolut atau tidak.

Hal utama yang perlu menjadi perhatian adalah Baca lebih lanjut