Seksologi dalam Ajaran Leluhur

Masyarakat Jawa memandang perempuan sebagai makhluk indah yang dengan kecantikannya menunjukkan sisi keserasian dan keindahan.

Menurut falsafah Jawa, perempuan adalah bumi yang subur, yang siap menumbuhkan tanaman. Perempuan adalah bunga yang indah, menebarkan bau harum mewangi dan membuat senang siapa saja yang melihatnya.

Wanita ideal dalam budaya Jawa digambarkan panyandra. Panyandra merupakan lukisan keindahan, kecantikan, dan kehalusan melalui ibarat.

Membincang seksualitas perempuan dahulu dimulai dari hubungan-hubungan sosial pada masa remaja dalam sistem sosial Jawa yang erat sangkut-pautnya dengan proses tercapainya tingkat kedewasaan biologis.

Masalah seks tidak pernah dibicarakan secara terbuka dalam keluarga dan masyarakat Jawa umumnya, meskipun dalam percakapan banyak lelucon mengenai seks. Bahkan, seorang rohaniawan juga sering bercerita tentang seks kepada pendereknya. Pembicaraan dan pengetahuan tentang seks mengalir di antara teman akrab, kawan seprofesi, atau kawan bermain, dan ada juga yang mendapatkan dari wanita-wanita tunasusila di warung-warung pinggir jalan.

Oleh karena ada rasa tabu dalam pembicaraan seks, orang Jawa memiliki simbol lingga yoni.

Lingga melambangkan falus atau penis, alat kelamin laki-laki. Yoni melambangkan vagina, alat

kelamin perempuan. Simbol-simbol ini sudah lama dipakai oleh masyarakat nusantara sebagai penghalusan atau pasemon dari hal yang dianggap jorok.

Simbol lain seperti lesung alu, munthuk cobek, dan sebagainya juga bermakna sejenis. Pelukisan seksual dalam khazanah filsafat Jawa dikenal dengan isbat curiga manjing warangka yang arti lugasnya adalah keris masuk ke dalam sarungnya.

Dalam melambangkan proses pembuahan ini Hariwijaya mengungkapkannya sebagai berikut.

Manusia dalam kosmologi Jawa berasal dari tirta sinduretna yang keluar saat pertemuan antara

lingga yoni, kemudian berkembang menjadi janin dan dikandung dalam gua garba.

Tirta sinduretna merupakan lambang dari air mani atau sperma laki-laki. Gua garba merupakan melambangkan untuk menghaluskan fungsi rahim seorang wanita.

Proses magis spiritual ini disimbolkan dalam kalimat alegoris bothok bantheng winungkus godhong asem kabitingan alu  bengkong. Secara harfiah, kalimat tersebut berarti sejenis sambal yang dibungkus daun asam yang diberi lidi alubengkong. Bothok bantheng bermakna sperma; godhong asem bermakna kemaluan wanita; alu bengkong sebagai simbol alat kelamin pria.

Dengan demikian, makna adalah bahwa asal-usul manusia berasal dari sperma yang membubuhi sel telur dari rahim wanita yang terjadi dalam proses persenggamaan.

Dalam pandangan yang lain istilah dalam bathok bantheng adalah simbol keberadaan zat, hidup manusia; godhong asem sebagai simbol sifat manusia; alu bengkong melambangkan tingkah-laku.

Maknanya, hidup manusia selalu  terbungkus oleh sifat dan perilakunya.

Hubungan seksual dalam pandangan Jawa merupakan sesuatu yang luhur, sakral, dan memiliki fungsi untuk menjaga keharmonisan dan kelangsungan hidup manusia. Keharmonisan akan beraroma kenikmatan tinggi jika menggunakan seluruh tubuh untuk mencari dan mengekspresikan kepuasan satu sama lain.

Hubungan seksual demikian adalah seks yang sesungguhnya dan memberi arti yang sangat dalam.

Seks memberikan nilai keharmonisan hidup. Pemenuhan seksual (sexual fulfilment) adalah suatu hal ketika keduanya mencapai suatu momen yang memabukkan (ecstasy), menggambarkannya sebagai berikut;

Saya hanya bisa seperti apa bagi seorang pria, namun saya ya….. ketika saya dapat mencapai satu macam ikatan, ketika Anda sedang bersetubuh dan ……..Anda mendekati jiwa pasangan orang lain yang Anda tidak bisa dapatkan di kesempatan lain …. Ketika Anda lihat ke dalam mata pasangan, Anda seperti bisa melihat ke dalam jiwa mereka dan itu adalah ikatan— saya rasa, vagina saya menjadi jiwa saya juga… dan ketika kita berhubungan itu, seperti menggabungkan dua jiwa, dan itulah bentuk ikatan, lalu sensasi suatu rasa bahwa Anda telah menciptakan kepuasan seksual.

Hubungan seksual jika didasari oleh rasa cinta merupakan pemenuhan spiritual. Hal ini barangkali tak akan lebih mudah dipahami dalam konteks keagamaan.

Dalam ajaran leluhur kuno, hasrat jiwa untuk menjadi satu dengan Tuhan biasanya diekspresikan secara simbolik dengan terma cinta manusia dan hasrat seksual.

Dalam tasawuf, seks orgasme merupakan jalan menyatukan diri hamba dengan Tuhannya. Oleh karena itu, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki hak-hak untuk dapat menikmati hubungan seks yang mereka lakukan.

Menurut ajaran Jawa kuno, dalam hubungan seksual itu, unsur laki-laki adalah upaya atau alat untuk mencapai kebenaran yang agung, sedangkan unsur wanita merupakan prajnaa atau kemahiran yang membebaskan. Dipahami bahwa persenggamaan adalahdarma suami terhadap istri, dan sebaliknya merupakan kewajiban suami terhadap istrinya.

Asmaragama ini ditunjukan kepada sepasangan kerohanian. Latihan untuk memahami teori seksual ini diperlukan kesungguhan,keajegan, ketenangan batin, dan sakralitas karena seks merupakan ritual suci sakral yang hanya boleh dilakukan oleh mereka yang telah menuju kedewasaan dalam kerohanian keutamaan hidup.

LESUNG

Suaramu tak lagi mengalun

karena antan sudah haram menjamah

Dewi Sri yang ramah kini hanya mampu meratap

pak Tani dan mbok Tani tak lagi berdendang

di saat fajar subuh menjelang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: