Kujang, Pandai dan Maranggi

KUJANG, PANDAY DAN MARANGGI
(Suatu penelusuran filosofis penamaan dan definisi)

oleh: dr.R.Wisnu Kusumawardana

I. PENDAHULUAN

Rupa-rupanya para Leluhur pendiri Tatar Sunda betul betul sangat paham psikologi rakyatnya, terbukti banyak produk budaya yang sampai masa sekarang masih ada dan lestari. Produk produk budaya tersebut diwujudkan dalam dua bentuk, wujud pertama adalah produk yang tidak tertulis / bukan materi yaitu kesenian tradisional, carita tutur pantun, tata aturan sosial serta hukum-hukum adatnya, sedangkan wujud yang kedua adalah produk yang berwujud materi yaitu berupa artefak menhir-dolmen ,teras berundak, candi, naskah kuno, kujang, bedog, baju adat, bangunan kuno dan lain-lain masih banyak lagi. Produk produk budaya tersebut sangat khas dan indah, dikatakan sangat khas karena berbeda dengan daerah lain dan dikatakan indah secara estetik maupun filosofis karena sejak awal diciptakan penuh dengan kaidah kaidah yang secara dimensi formal ada ‘benang merah’ dengan tata aturan sosialnya.

Pada tulisan ini, menitikberatkan upaya tentang penelusuran filosofis penamaan sekaligus definisi Kujang, selain menarik dan khas Pasundan (menjadi ikon/lambang pemerintah daerah Jawa Barat), tulisan serta penelitian tentangnya pun masih sedikit. Hal ini cukup beralasan, karena memang sumber primer yang ada ‘sangat sedikit’, atau belum banyak diketemukan, atau bahkan banyak yang tidak berminat. Kenyataan seperti diatas, yaitu aspek ke-khas-an Kujang menjadikannya obyek kajian yang panjang, dengan alas an sebagai berikut:
1. Bahwa penamaan Kujang itu sendiri merupakan suatu tantangan tersendiri untuk dikaji. Dari manakah asal nama Kujang?
2. Bahwa artefak Kujang tentunya tidak pernah lepas dari induk kebudayaannya. Apakah benar Kujang berasal dari wilayah Pasundan? Buktinya apa?
3. Kebudayaan,termasuk artefaknya,tentunya berubah tiap tiap zaman, sehingga Kujang sebagai hasil produk kebudayaan tentunya juga mengalami proses perubahan, baik bentuk maupun maknanya, sesuai tuntutan zaman. Seperti apakah bentuk awal Kujang itu?
4. Kebudayaan adalah wujud dari proses berkesadaran yang secara konstruktif dan akumulatif membangun manusianya. Konsep terwujudnya Kujang pada setiap Panday atau Guru Teupa apakah sama pada kurun waktu yang sama maupun yang beda?
5. Dalam kaitannya dimensi ruang, andaikan terjadi ada migrasi masyarakat Pasundan ke suatu negara lain yang kemudian disana membuat Kujang dengan segala jenis variasinya, bagaimana bila terjadi negeri baru yang mereka diami mengklaim bahwa Kujang adalah asli berasal dari negeri mereka? (ingat kasus Reog Ponorogo).

Sebenarnya, masalah pokok yang muncul pada aspek kekhasannya adalah sedikitnya data primer yang mendukung ke-autentik-an nya dan lagipula artefak yang ada, asal usulnya banyak yang tidak jelas. Selain daripada masalah itu, Kujang rupanya pada zaman ini rupanya ‘sudah populer’ menjadi ikon Jawa Barat dan bahkan menjadi simbol resmi Pemda Prop.Jabar. Adanya kesenjangan antara teori yang mendukung keabsahan orisinalitasnya dengan praktek penggunaan di lapangan seperti simbol simbol serta lambang, hal ini menjadikan Kujang untuk ‘segera secepatnya’ dikaji, diteliti, dikonservasi dan dicari sumber primer yang ‘sah’ dan ‘meyakinkan’, yang secepatnya pula agar diakui secara Internasional dengan disahkan oleh UNESCO, bahwa Kujang benar benar milik masyarakat Pasundan / Indonesia.

Untuk analisis obyektif data tentang Kujang ini, bukanlah hal yang mudah, mengingat minimnya data dan sedikitnya artefak yang jelas asal usulnya, selain itu pula, menggali pengertian obyektif masa lalu sesuai dengan masanya juga merupakan suatu upaya mirip ‘peneropongan’ atau menembus dimensi waktu. Akan tetapi tetap diupayakan se ‘logis’ mungkin, dengan melihat fakta fakta tentangnya yaitu antara lain : artefak kujang, pemuatan dalam naskah kuno, situs peninggalan kuno, berita pantun serta beberapa makalah. Dengan hadirnya fakta fakta tersebut, muncul beberapa pertanyaan yaitu :
1. Apa arti dari fakta yang kita lihat itu? Dan mengapa keadaannya demikian?
2. Apa yang terjadi disana? Apakah ada hubungan tertentu antara yang dilihat itu?
3. Apakah sebabnya terjadi fakta fakta tersebut?

Pertanyaan pertanyaan yang muncul diatas adalah yang akan dibahas sesuai dengan relevansi judulnya. Kujang terwujud akibat diwujudkan oleh Panday, dan diperindah tampilannya dengan hadirnya sarung / sarangka hasil garapan maranggi. Tiga hal yaitu panday,maranggi dan kujang adalah satu kesatuan, maka panday serta maranggi akan dibahas pada awal tulisan ini walaupun singkat.

II. PENGETAHUAN TENTANG PANDAY

Pada jaman sekarang, orang mengenal kata kata Panday identik dengan panday besi maupun panday perhiasan / mas, demikian pula pengertian tentangnya pun dianggap sebagai orang yang hidup berprofesi dengan memanfaatkan bahan baku logam sebagai bahan utama untuk menciptakan suatu barang logam untuk membantu keperluan hidup, seperti cangkul, sabit, kapak, linggis dan lain lain. Sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa dalam hampir semua catatan sejarah menunjukkan seorang Panday adalah sangat didominasi oleh laki-laki (walaupun ada segelintir yang perempuan), selain memang pekerjaan ini memerlukan otot kuat jasmaniah tampaknya didukung pula secara rohaniah oleh budaya yang sifatnya masih Patriarkal. Dengan pendekatan kritis-refleksif, keadaan / realita seperti ini membawa konsekuensi bahwa hasil karya Panday sebagai representasi, meminjam istilah Syarifah (2006), merupakan salah satu bentuk dari hasil penalaran yang berorientasi pada kepentingan laki-laki (Androsentrisme-Phallosentrisme) sebagai subyek yang berkesadaran, dan hal ini mempengaruhi artefak-artefaknya yang telah kita kenal sampai sekarang. Secara psikologis, amat sangat mempengaruhi pada tiap-tiap bentuk perilaku yang dihasilkannya, secara jujur bila terdapat kelemahan yang sifatnya memojokkan ‘malestream’, walaupun itu memang mungkin, seringkali ada upaya dekonstruksi. Obyek sebagai hasil budaya, mengingat kondisi subyek seperti itu, tentu, pada akhirnya berkecenderungan bersifat maskulin.
Sebelumnya, jangan salah menafsirkan pernyataan diatas, penalaran yang dimaksud diatas adalah bentuk-bentuk fakultas logos yang sangat dipengaruhi oleh kondisi memori otak, dimana memori dipenuhi oleh informasi dan kualitas ilmu pengetahuan saat itu pula. Skala pikir yang dihasilkan adalah khas spesifik jamannya. Sedangkan karya seni budaya luhur, lebih kompleks daripada hanya sekedar penalaran biasa. Karena untuk menjadi seorang Panday yang ideal, hasil perilaku yang diwujudkan pada benda karya ciptanya, sangat membutuhkan kemampuan olah indra yang peka, olah pikir yang prima, serta olah rasa yang tajam, ketiganya berpadu pada titik resultante tertentu sesuai kodrat sang Panday. Pola-pola tersebut merupakan manifestasi berkesadaran, inilah yang diusung tiap religi maupun paham keagamaan sesuai dengan ciri khasnya masing-masing. Itulah skala ideal, yang pada prakteknya ternyata bervariatif dan itupun manusiawi. Sehingga, pengamatan yang sifatnya pada salah satu sisi ideal sebagai parameter, akan didapatkan beberapa tanda-tanda biasnya.
Dalam bukunya yang berjudul Strategi Kebudayaan (1976), C.A.van Peursen menyebutkan bahwa yang ikut mempengaruhi terbentuknya benda budaya adalah adanya faktor magi dan religi. Faktor religi, menempatkan obyek sebagai wujud hasil dimana subyek tunduk atas adanya kuasa Causa Prima, maka penamaan serta penyebutan benda tersebut bersifat lembut, indah, menawan, dan santun. Meminjam istilah yang dipakai oleh Mircea Eliade (2002) didalam karyanya yang berjudul Sakral dan Profan, manifestasi Causa Prima yang seperti itu adalah gambaran yang fascinatum (menawan,memikat). Kemudian, faktor magi, menempatkan obyek sebagai wujud hasil dimana subyek harus mampu menguasai dan waspada pada keadaan yang perlu, maka banyak istilah yang berkesan galak, menakutkan, tegas, dan ini merupakan gambaran manifestasi Causa Prima yang tremendum (menakutkan) . Faktor religi serta magi, hampir selalu ada pada artefak-artefak peninggalan budaya masa lalu, namun dengan skala perbandingan yang berbeda-beda.

Seorang Panday dalam mewujudkan karyanya biasanya diawali dengan niat yang bersifat antara lain :
A. Sakral Murni
Maksudnya adalah dalam mewujudkan karyanya seorang Panday amat sangat ketat menjaga kualitas tujuan sejak niat sampai menyerahkan hasil karyanya. Ketat disini artinya semua kaidah keyakinannya dijalani, dari sesaji, berpantang sesuatu sampai mengucapkan mantra. Inti dari Sakral Murni ini adanya tujuh kaidah mantra, yaitu:
1. selamatan sebelum bekerja (sebagai niat awal)
2. pada penempaan I
3. selama proses penempaan
4. ‘pengisian’
5. penyepuhan
6. finishing
7. selamatan dan syukuran selesai kerja

Tujuh kaidah doa ini merupakan satu kesatuan rangkaian tujuan, artinya dari doa 1 s/d 7 harus benar-benar satu cipta yang kongruen dengan tujuan awal. Apabila dicermati lebih mendalam, dalam bagian tiap doa diatas dibagi lagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Bagian penghormatan pada Causa Prima
2. Bagian pengutaraan maksud
3. Bagian harapan

Bagi Panday yang faham akan filosofi ini, tentunya tidak akan pernah meninggalkan makna tujuh kaidah tersebut, hakekatnya adalah terwujudnya tujuan dari segala aspeknya, dengan mengurangi sesedikit mungkin kesalahan. Keadaan seperti ini dituntut suasana yang wajib tenang, serius, penuh hormat dan konsentrasi, sehat jasmani rohani, seimbang dan terkontrol hawa nafsunya, serta berkesadaran yang prima. Makna sesungguhnya adalah mohon ijin pada Causa Prima agar dikabulkan pembuatan karyanya yang sesuai dengan tujuannya. Tujuan dalam pembuatan karyanya, menurut Basuki Teguh Yuwono (2008), dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
1. Spiritual, maksudnya adalah bertujuan menuju kesempurnaan serta kesucian hidup yang hakiki
2. Duniawi, maksudnya adalah bertujuan mendukung/memperkuat kebutuhan hidup di dunia
Dalam kenyataannya, manusia sebagai makhluk sosial adalah wajib bermasyarakat, konsekuensinya adalah adanya keseimbangan antara kebutuhan spiritual dan duniawi. Kenyataan seperti ini amat sangat dipahami oleh seorang Panday, maka dengan demikian, dapat dimengerti bahwa seorang Panday (lebih-lebih yang senior), harus menunjukkan seorang teladan di masyarakat atas kesucian serta paham kebenaran hakiki dirinya, baik pikiran, perasaan maupun perilakunya.

Bukti adanya sakralitas adalah:
1. Dimensi Ruang, seorang panday dalam tahap yang paling awal adalah membuat dapur kerja, yaitu disebut paneupaan / gosali / besalen, menurut pemahamannya lokasi membawa sifat yang berbeda-beda, misalkan sebelah barat gunung / bukit akan berbeda dengan sebelah timurnya. Daerah dataran pun berbeda lagi, sebegitu juga lokasi sungai ada diatas atau dibawah dapur kerjanya pun berbeda sifat. Ternyata dimensi ruang amat sangat bermakna dan berbeda-beda pada tiap lokasi.
2. Dimensi waktu, seorang Panday harus mampu mengetahui mana hari yang baik dan tidak sesuai dengan tujuannya. Hitungan bahkan dimulai dari windu, tahun, bulan,wuku, pasaran, paringkelan dll, dimana semua itu beredar sesuai siklus ulangannya. Dimensi waktu bagi Panday bersifat dinamis dan berulang.

B. Antara Sakral-Profan
Pada prakteknya, kondisi yang seperti ini justru paling sering terjadi. Sebagai contoh, didalam menerapkan 7 kaidah doa kepandayan seringkali tidak utuh lagi, yaitu mengurangi doa pengisian atau doa penyepuhan dll, entah sengaja maupun memang tidak tahu. Bahkan, kadang yang diucapkan hanyalah doa selamatan sebelum bekerja, dan itupun kadang tidak utuh lagi materi doa bagian per bagiannya, misalnya hanya berisi bagian penghormatan kepada Causa Prima atau bagian harapan saja.

C. Profan Murni
Pada kondisi ini, seorang Panday hanya mengejar keuntungan sisi waktu dari / dan sudut pandang ekonomis, alias murni materi belaka. Semua kaidah kaidah doa sudah tidak dipakai lagi, masih untung yang tahu doa-doa tersebut walau tidak dijalani, karena kebanyakan justru tidak tahu lagi tentang doa-doa tersebut. Sebenarnya, penamaan Panday bila ditinjau sejarahnya adalah penuh sakralitas, perubahan jaman ternyata memunculkan istilah Panday yang melulu profan.

Untuk lebih jelasnya dibawah ini akan diterangkan perihal panday, yang diuraikan secara kronologis dengan dasar urutan masuknya kepercayaan serta paham agama yang dianut masyarakat Pasundan, dengan catatan bahwa batasan ruang Pasundan tempo dulu tidak seperti sekarang ini

A. Panday Sunda Zaman Prasejarah
Menurut Ratnaesih Maulana (2002) dalam makalah ilmiahnya, disebutkan bahwa kemampuan mengolah logam mulai muncul pada jaman Prasejarah,khususnya pada Masa Perundagian, dimana bahan logam yang dibuat pada masa ini umumnya terbuat dari perunggu. Sedangkan benda yang dihasilkannya, misalkan arca, memperlihatkan hiasan yang lebih dekoratif dan lebih dinamis apabila dibandingkan dengan gaya arca produk jaman Megalitikum. Kemampuan mengolah logam ternyata memang sudah ada pada jaman prasejarah, orang yang mampu mengolah bahan perunggu masa itu entah disebut apa waktu itu , tetapi jelas sudah ada. Mungkin dengan banyak spekulasi, istilah ‘Guru Teupa’ lebih tepat rasa-rasanya untuk waktu itu di wilayah Pasundan, entah apa di daerah lain waktu itu.
Pernyataan diatas memperkuat tulisan J.L.A Brandes (1887) yang menyebutkan bahwa penduduk asia tenggara termasuk yang mendiami kepulauan nusantara telah mempunyai 10 kepandaian menjelang masuknya pengaruh kebudayaan India, yaitu mengenal pengecoran logam , mampu membuat figure-figur manusia dan hewan dari batu, kayu, atau lukisan di dinding goa, mengenal instrument musik, mengenal berbagai ragam hias, mengenal system ekonomi barter, memahami astronomi, mahir dalam navigasi, mengenal tradisi lisan, mengenal system irigasi untuk pertanian, dan adanya penataan masyarakat yang teratur. Dalam kondisi peradaban seperti itulah mereka kemudian berkenalan dan menerima para niagawan dan musafir dari India maupun China..
Kepercayaan prasejarah waktu itu, menurut Jacob Sumardjo (2002) di dalam bukunya, masyarakatnya masih menganut konsep dualisme keberadaan, yaitu langit sebagai Dunia Atas yang bersifat absolut dan tidak dikenal , dan bumi sebagai Dunia Bawah yang bersifat dibutuhkan dan dikenal manusia. Dunia manusia berasal dari Dunia Atas, jadi ada kesatuan dualistik antara manusia dengan Dunia Atas. Pola hubungan kesatuan tersebut antara lain dengan perkawinan, perkawinan Dunia Atas dengan Dunia Bawah, akan melahirkan berbagai ciptaan yang berguna bagi manusia. Pasangan ini bersifat kosmis, karena pola hubungan ini berupa perkawinan, maka kesempurnaan hidup, keselamatan hidup, kesejahteraan hidup hanya dapat terjadi apabila ada perkawinan ini. Untuk itu diperlukan Dunia Tengah, dunia perantara untuk perkawinan dua pasangan kontras tadi, disebut Axis Mundi, berupa gunung, pohon, bersifat transenden, semua upacara dan kegiatan harus secara Dunia Tengah ini, penuh kegaiban penuh mantra. Kesatuan dunia dunia tersebut merupakan kesetuan Ruang dan Waktu, semua hanya satu, hanya ada satu Ruang dan satu Waktu. Mungkin lebih tepatnya semua adalah satu kesatuan tunggal yaitu Sang Tunggal. Sang Tunggal merepresentasikan dirinya dalam ruang dan waktu.
Konsep perkawinan kosmis diatas, bila dihubungkan dengan tulisan Basuki Teguh Yuwono (2008) tampaknya ada korelasinya, yaitu proses pembuatan pusaka merupakan suatu ‘Tapa Laku’ suci yang rumit, penuh kehatihatian, penuh doa mantra, oleh karena memadukan dua keadaan yaitu Guru Dadi (sesuatu yang berasal dari langit) dan Guru Bakal (sesuatu bahan dari bumi), agar menghasilkan perpaduan yang baik dan sempurna.
Guru Teupa merupakan tokoh kunci sekaligus spiritual-religius yang sangat dihormati dan mulia di mata masyarakat ,untuk ukuran masa itu menurut Mamat Sasmita (2009), dikatakan bahwa tidak ada hasil kemahiran yang lebih baik dalam menggambarkan gaya hidup suatu bangsa selain kemampuan mengolah logam menjadi peralatan yang berguna untuk kehidupan sehari-hari. Guru Teupa dalam melakukan upacara ritualnya yang suci dan penuh kegaiban, menyendiri di dalam Paneupaan (dapur pengolah logam/tempat penempaan) jauh dari hiruk pikuk masyarakat merupakan Dunia Tengah yang mengkawinkan Guru Jadi (dalam bahasa Sunda Kuno) dengan Guru Bakal. Guru Teupa mentransformasikan peralatan yang sebelumnya terbuat dari batu maupun kayu menjadi berbahan logam, teknologi tempa maupun peleburan serta pencetakannya masih sederhana. Untuk mewujudkan sebuah pusaka yang berbentuk senjata, Guru Teupa mencampur bahan bahan yang berasal dari bumi (Guru Bakal) yaitu besi atau timah hitam dipadukan dengan bahan bahan yang diyakini sebagai dari langit, bahan tersebut harus berbeda dan terang, oleh karena sumber terang berasal dari langit (Guru Jadi) yaitu antara lain timah putih, meteorit, kadang kala untuk meningkatkan nilai sakralitasnya diimbuhi dengan sedikit emas (Dunia Tengah), dalam beberapa artefak lebih kurang berkadar 0,0005% – 0,001%.

B. Panday Sunda Zaman Hindu-Budha
Sesuai makalah Agus Aris Munandar (2005), setelah penduduk nusantara berinteraksi dengan para pendatang dari India, maka diterimalah beberapa aspek kebudayaan penting oleh penduduk kepulauan Indonesia. Aspek-aspek kebudayaan dari India yang diterima oleh nenek moyang bangsa Indonesia benar-benar barang baru, yang tidak mereka kenal sebelumnya yaitu huruf Pallava, Agama Hindu-Budha, dan kalendar tahun Saka. Melalui ketiga aspek kebudayaan dari India itulah kemudian peradaban nenek moyang bangsa Indonesia terpacu dengan pesatnya, berkembang dan menghasilkan bentuk-bentuk baru kebudayaan Indonesia kuno yang pada akhirnya pencapaian tersebut diakui sebagai hasil kreativitas penduduk kepulauan Indinesia sendiri. Dengan dikenalnya huruf Pallava, atau sering disebut dengan huruf Pascapallava, nenek moyang bangsa Indonesia mampu mendokumentasikan pengalaman dalam hidupnya. Terbitnya prasasti-prasasti dari kerajaan kuno, penggubahan karya sastra dengan berbagai judul, serta dokumentasi tertulis lainnya adalah berkat dikenalnya huruf Pallava ini. Bahkan di masa kemudian huruf Pallava itu kemudian dinasionalisasikan oleh berbagai etnis di Indonesia, maka munculah antara lain aksara-aksara: Sunda Kuno, Jawa Kuno, Bali Kuno, Bugis Kuno, Batak Kuno dan Lampung Kuno.
Sebagaimana diketahui pengaruh agama Hindu Budha masuk ke daerah Pasundan lebih kurang pada abad ke 4-5 Masehi, dengan bukti bukti prasasti yang mengarah adanya kerajaan bercorak adanya pengaruh kebudayaan India yaitu Tarumanagara yang salah satu rajanya bernama Purnavarmman. Prasasti yang berangka tahun pertama dijumpai di wilayah Jawa Tengah, yaitu prasasti Canggal berhurf Pallava dan berbahasa Sanskerta yang berangka tahun 652 Saka atau 730 M. Untuk wilayah Pasundan, prasasti yang berangka tahun yang diketemukan baru prasasti Batutulis-Bogor berangka tahun 1455 Saka atau 1543 M, itupun sudah memakai aksara dan bahasa Sunda Kuno. Akan tetapi pada prasasti Tugu (berhuruf Pallava dan berbahasa Sanskerta) yang diketemukan di kecamatan Cilincing wilayah Jakarta Utara sudah menyebutkan nama bulan yaitu Phalguna dan Caitra, nama bulan pada bangsa India serta menyebutkan nama sungai di India yaitu Candrabhaga dan Gomati.
Dengan masuknya paham agama, tentunya disertai dengan ikut masuknya pula pengetahuan serta budaya bangsa yang membawa agama tersebut masuk. Pengetahuan tersebut meliputi bahasa, sastra serta teknologi dan lain lain. Hal yang pasti adalah berkat adanya pengaruh agama Hindu-Budha tersebut penduduk Pasundan kemudian memasuki periode sejarah. Guru Teupa mau tidak mau beradaptasi dengan paham dan kekuatan yang baru apabila ingin tetap survive. Pada kenyataannya paham yang dianut Guru Teupa mirip / bisa berpadu dengan salah satu sekta (dari sekian banyak sekta) di agama Hindu. Hal ini sesuai yang tertulis dalam Kitab Suci Weda Aranyaka Upanisad, tentang perkembangan Weda dimana melahirkan banyak tokoh Brahmana, dengan banyak sekta, sedangkan penganut sekta tersebut disebut Wangsa.
Menurut Rsi Bintang Dhanu M (1998), disebutkan bahwa sumber yang berkaitan dengan masalah ini adalah berasal dari sekta Brahma, sekta ini merupakan salah satu sekta yang besar dan penting untuk waktu itu. Pada waktu itu pengikutnya disebut Wangsa Brahmana Panday. Wangsa Brahmana Panday ini dalam kedudukannya di Kerajaan menempati posisi yang penting, jabatan yang diembannya diberi gelar Mpu. Jadi menurut kronologisnya, kata Mpu pada awalnya menunjukkan pangkat / jabatan yang penting. Tidak semua Wangsa Brahmana Panday mendapat gelar Mpu, karena gelar tersebut merupakan tanda pangkat dari kerajaan, akan tetapi keluarga Mpu dan saudaranya seketurunan tetap sebagai Wangsa Brahmana Panday, kecuali yang berkianat. Istilah Guru Teupa kemungkinan besar pada masa Hindu ini mulai diganti dengan julukan Panday, termasuk Paneupaan mulai diganti dengan istilah Gosali.
Menurut tulisan RM.Sajid (1980), jabatan Mpu di kerajaan di bagi 3 kelompok, yaitu:
1. Mpu Panday, bertanggungjawab dalam bidang senjata,serta perhiasan dari logam
2. Mpu Jangga, bertanggung jawab dalam bidang sastra dan administrasi tulis menulis serta pengarsipannya.
3. Mpu Gangsa, bertanggung jawab dalam bidang kesenian karawitan serta pembuatan peralatannya.
Selanjutnya, pada waktu itu, menurut Basuki Teguh Yuwono (2008) seorang Panday selain bidangnya dalam pembuatan senjata dan pusaka harus menguasai beberapa bidang yang berfungsi mendukung keahliannya, yaitu
1. Menguasai dalam bidang agama
2. Menguasai dalam bidang olah senjata
3. Menguasai dalam bidang psikologis
4. Menguasai dalam bidang anatomi tubuh
5. Menguasai dalam bidang politik dan tata Negara
6. Menguasai dalam bidang sastra
7. Menguasai dalam bidang artistik dan seni

Dalam bukunya Rsi Bintang Dhanu M (1998) kata Panday ( Pande= Jawa dan Bali, Pandeya=Jawa Kawi Kuno ) berasal dari akronim dalam bahasa Sanskerta, kata tersebut berasal dari ‘Paandie’, kata ini tersusun atas :

PA………………….= yang berarti paha atau pupu
AN…………………= yang berarti tangan
DIE…………………= yang berarti jeriji atau jari

Jadi kata Panday mempunyai gambaran tahan panasnya api dimana bahwa pahanya sekeras Paron / landesan, tangannya berfungsi sebagai palu / martil sedangkan jarinya sebagai penjepit bilahnya. Kata akronim tersebut sebenarnya merupakan manifestasi dari ilmu dasar rahasianya tentang Cakra, rahasia karena hanya boleh diajarkan oleh sesama penganut sekta Brahma saja. Ajaran tersebut adalah ilmu andalan wangsa ini yang tidak dimiliki oleh sekta yang lain, mereka menyebutnya ‘Aji Panday Wesi’ atau ‘Aji Wesi’, dari sekian banyak bab ‘Aji Wesi’ yang paling pokok adalah bab ‘Aji Panca Bayu’ atau ‘Tatwa Aji Wesi’. Tatwa ini di Pulau Bali masih ada dan lestari sampai kini, Tatwa Weda Urip Wesi ini terdapat dalam Prasasti Dharma Kapandayan (naskah lontar 15.11/prp pada kropak no.5138), yang bunyinya (bahasa kawi) antara lain:

“……………………IKI AKSARA KASADUR SIRA PANDE TATAS RING TUTUR LAWAN WARIGA MANGKANA KADI LING SASTRA IKU DHARMA WISESAN NGARAN…………………………”(yang artinya= ini sastra wangsa panday ringkasnya harus tahu tentang filsafat hidup, dan wariga perhitungan hari, wuku, bulan, dan tahun bumi, seperti yang tertulis di dalam ajaran Dharma Wisesa).

Demikianlah pada jaman Hindu Budha, seorang Panday sangat diikat oleh Prasasti maupun Pustaka lontar pegangannya, sumpah jabatan pada leluhur maupun rajanya, dan kewajiban moril wangsanya. Oleh karena Panday jaman Hindu-Budha ini merupakan suatu bagian wangsa dari sekta Brahma, tentunya sesuai paham / aliran-aliran sekta waktu itu, tentunya memiliki hal-hal yang dirahasiakan maupun yang tidak dirahasiakan. Kenapa bisa terjadi seperti ini? Jawabnya sangat manusiawi, antar sekta ada semacam adu valid. Hal yang dirahasiakan, hanya boleh diketahui oleh sesama wangsanya, itupun bertingkat-tingkat sesuai kualitasnya. Sebagai contoh, doa-doa Panday dalam acara selamatan sebelum berkarya maupun memulai karya, doa ini masuk kategori ‘rahasianya rahasia’, dan ada lagi masuk kategori ‘puncaknya rahasia’, sebagai misal, yaitu pada bagian ‘mengisi’ karyanya dengan suatu keinginan, contoh ini tidak semua wangsa Panday bisa / boleh tahu, mengapa? Karena pada sisi ini tergantung penguasaan ilmu maupun tingkat kesempurnaan / kesucian wangsa Panday.
Bagian yang rahasia tersebut adalah bagian yang tidak tercatat dalam sejarah, ini realita, bahkan sampai pada detik inipun masih ada beberapa Panday yang mengatakan bahwa ada bagian yang dirahasiakan dan apabila dikejar dengan pertanyaan mengapa, jawabnya selalu karena perintah leluhur, pastinya adalah tidak tahu. Pada kenyataannya, hal yang dirahasiakan tersebut seringkali disampaikan secara ‘face to face’ , bahkan ada yang harus dihafal dan tidak boleh diwujudkan dalam bentuk tulisan apapun juga.
Pengaruh filosofi Lingga-Yoni dalam agama Hindu sangat besar pengaruhnya dalam konsep pembuatan pusaka pada masa ini. Konsep Lingga-Yoni merupakan suatu konsep yang mirip dengan konsep keseimbangan kosmis jaman Prasejarah, menurut GM.Nurjana (2009) konsep tersebut berarti menjaga keseimbangan ciptaan-Nya, dimana Lingga berarti simbol Brahman, Tuhan Yang Maha Esa digambarkan dengan aksara ‘AUM’ yang senantiasa bergema menciptakan Pertiwi atau Yoni, alam semesta maupun langit dengan segala isinya. Oleh P.J.Zoetmulder dalam kamus Jawa Kuno, Lingga dapat berarti phallus, arca dewa, titik poros atau sumbu, sedangkan Yoni dapat berarti garbha, rahim, tempat lahir .
Dengan demikian, dapat diduga pada masa ini Panday berada dalam masa keemasannya, semua keadaan mendukung pemahaman sebelumnya, kerajaan dan masyarakat menempatkan Panday pada posisi luhur dan terhormat. Wangsa Panday secara politis benar-benar menduduki posisi yang sangat strategis, ini merupakan waktu yang paling tepat untuk berkembang, terbukti bahwa artefak artefak peninggalannya pada masa ini amat beragam dan banyak.
Sebagai contoh dalam kaitannya Panday dengan paham Lingga Yoni di agama Hindu adalah adanya relief yang secara jelas tervisualisasi pada Candi Sukuh di Karanganyar Solo-Jawa Tengah, candi ini didirikan antara tahun 1437-1496 M. Pada relief tersebut amat jelas merupakan gambaran sebuah Gosali, dimana di dalamnya memperlihatkan Wangsa Panday sedang bekerja mengerjakan sebuah bilah senjata. Tampak seorang laki-laki sedang menempa senjata disamping Paronnya dengan tangan kanan memegang martil sedangkan tangan kirinya memegang bilah senjata. Pada sudut lain, seberang tidak jauh, tampak seorang wanita membantu sang Panday dengan memegang alat yang disebut Ububan / Puputan. Dalam kaitannya konsep Lingga-Yoni, sang Panday menempa dan sang wanita memberi hawa, dari pekerjaan ini lahirlah sesuatu yang mereka inginkan yaitu senjata. Keadaan ini mirip dengan sepasang insan yang menginginkan anak, bukan aktivitasnya tapi maknanya.

C. Panday Sunda Jaman Agama Islam
Paham agama Islam sangat lain dengan agama Hindu, di dalam agama Islam pada prakteknya harus selalu ditujukan pada keTauhidan, lagipula didalam agama Islam dilarang menggambar mahluk hidup yang mirip dengan realita sesungguhnya, sehingga dalam mewujudkannya terjadi transfigurasi bentuk / struktur. Paham Panday masa Hindu amat berlainan dengan masa ini, sehingga banyak kaum Panday melakukan migrasi apabila tidak mau berpindah agama. Sebagai catatan, wangsa Panday merupakan termasuk kelompok solid yang amat sangat berpegang teguh pada ajarannya, dengan adanya perubahan kekuatan politis yang disertai perubahan ideology, maka mau tidak mau mereka melawan, pergi atau pindah agama. Pilihan kebanyakan melakukan migrasi, sangat mungkin Panday Domas (jikalau memang ada) migrasi pada era perubahan ini, secara logis, keadaan yang mampu memaksa migrasi besar-besaran adalah perubahan pemerintahan yang disertai perubahan ideology yang amat berbeda jauh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: