Indonesia: Telah Membunuh Tuhan ?

Membunuh Tuhan? Mungkinkah? Ini merupakan sebuah pertanyaan besar yang mengandung unsur reflektif dan siapapun memang wajib untuk merefleksikannya dalam diri sendiri.

Berangkat dari Friedrich Nietzsche

Nama Friedrich Nietzsche begitu terkenal karena pernyataan frontalnya yang menyebutkan bahwa Tuhan itu sudah mati dan seandainya Tuhan itu masih ada, sudah menjadi kewajiban kita untuk membunuhnya.

Adanya Tuhan, dari perspektif  Nietzsche, menyebabkan adanya sebuah sikap ketergantungan berlebihan yang mengakibatkan manusia stagnan dan kehilangan kreativitasnya. Nietzsche sendiri bisa dibilang sebagai perngkritik Kristen yang baginya dinilai sangat membatasi perilaku-perilaku manusia seperti misalnya perkara mengenai seksualitas.

Bagi Nietzsche, kematian Tuhan ini adalah sesuatu yang mutlak terjadi. Hal ini pada awalnya akan membangkitkan sebuah nihilisme, yakni Baca lebih lanjut

Iklan

Indonesia Bukan Negara Agama

Mengakui adanya keberagaman memang lebih mudah untuk dilakukan sebatas pengucapan melalui mulut, namun untuk bisa hidup berdampingan dalam suatu pengakuan akan adanya keberagaman lebih sulit untuk dilakukan.

Hal yang seringkali membuat hidup dalam keberagaman itu terasa sulit adalah karena adanya arogansi dan dominansi oleh kalangan mayoritas dalam lingkungan tersebut. Adanya tekanan-tekanan terhadap mereka yang tidak sepaham dengan kaum mayoritas menimbulkan ancaman terhadap eksistensi kelompok-kelompok lain dan pada akhirnya terjadinya sebuah monopoli kebenaran di lingkungan tersebut, menganggap yang berada di luar mayoritas adalah sebuah kesalahan dan harus ditiadakan dari lingkungannya.

Keberagaman agama dan kerukunan

Agama yang diakui saat ini di Indonesia berjumlah enam buah, yakni Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu. Keberagaman dalam agama ini tentunya akan memaksa setiap orang memiliki probabilitas yang tinggi untuk hidup berdampingan dengan tetangganya yang berbeda agama. Apalagi, hal ini juga diperkuat dengan jaminan langsung dari pemerintah mengenai kebebasan dalam memilih agama dan kepercayaan sehingga menjadi bebas pula setiap orang untuk memilih agamanya tanpa desakkan dari pihak-pihak manapun, termasuk orang-orang di sekitarnya.

Mengakui bahwa adanya keberagaman agama di Indonesia itu sendiri memang mudah. Hal ini tampak secara normaif karena agama-agama ini sudah diakui oleh pemerintahan Indonesia sendiri.

Namun, mengakui adanya keberagaman agama di Indonesia dalam sebuah ranah sosial dimana Baca lebih lanjut

Agama: Sesuatu yang Tidak Benar dan Tidak Salah

Apakah ada kebenaran di dalam agama, sesuatu yang telah menjadi pedoman bagi hampir seluruh umat manusia selama sekitar ratusan hingga ribuan tahun? Masing-masing agama memang mengklaim bahwa ada kebenaran di dalam dirinya; entah itu melalui konsep Tuhan yang dikonsepsikan melalui dogma maupun melalui Kitab Suci agama masing-masing ataupun melalui paham-paham yang mereka yakini sendiri. Namun, yang menjadi pertanyaan besar adalah, apakah betul bahwa agama itu memang betul-betul mengandung sebuah kebenaran?

Kebenaran diyakini sebagai segala sesuatu yang tidak lagi bisa dibantah, mengandung sesuatu yang absolut dan dapat diterima oleh semua kalangan. Berangkat dari pernyataan ini, kita akan melihat apakah agama itu bisa disebut mengandung sebuah kebenaran yang absolut atau tidak.

Hal utama yang perlu menjadi perhatian adalah Baca lebih lanjut

Mewujudkan Pernikahan Lintas Agama di Indonesia

Indonesia mengakui adanya keberagaman dalam agama yang diakui. Di satu sisi, keberagaman ini menciptakan sebuah keindahan, yakni suatu pilihan bagi warga Indonesia untuk bebas memilih agama yang sesuai dengan kepercayaan dan keyakinannya. Namun di sisi lain, keberagaman ini sering memunculkan masalah. Selain implementasi kebebasan beragama yang masih sangat minim di beberapa daerah, masalah yang muncul berikutnya adalah pernikahan lintas agama.

Seringkali kita mendengar bahwa pernikahan lintas agama itu sulit untuk terjadi di Indonesia. Hal ini disebabkan tidak adanya regulasi yang mengatur tentang hal tersebut. Selain itu, hal ini juga akan menimbulkan kesulitan seperti diantaranya adalah pemilihan prosesi pernikahan karena masing-masing agama memiliki prosesi yang berbeda-beda.

Namun, yang menjadi pertanyaan mendasarnya adalah, apakah dalam urusan dengan perasaan -dalam hal ini cinta- dapat dengan cepat dihentikan hanya karena permasalahan perbedaan agama? Apakah tidak ada jalan keluar yang efektif daripada harus pergi keluar Indonesia hanya Baca lebih lanjut

Jika Ingin Mengecam, Kecamlah Sekularisme dan Partai Berideologi Agama Bersamaan

Kebebasan berpendapat

Semenjak demokrasi bergulir pada sekitar 12 tahun yang lalu, satu hal fundamental yang paling banyak mendapat apresiasi adalah perihal kebebasan berpendapat. Zaman orde bari dinilai tidak lagi layak untuk memimpin Indonesia. Masyarakat membutuhkan sebuah kebebasan dalam berpendapat, yang diikuti juga dengan kebebasan pers sehingga pers tidak lagi menjadi kaki tangan pemerintah.

Kebebasan berpendapat sebagai hasil dari demokrasi ini membawa suatu dampak positif, yakni apresiasi masyarakat yang lebih tertampung dan keterjaminan mereka dalam mengungkapan pendapat. Namun di sisi lain, ada juga sisi negatif yang dimunculkan dari kebebasan berpendapat ini, yakni munculnya wacana-wacana yang sebelumnya tidak pernah dikenal karena hal tersebut dinilai sebagai perwujudan dari suatu kebebasan berpendapat. Oleh karena itu, mereka yang menganut paham sekularisme ataupun berideologi dengan agama tertentu merupakan perwujudan nyata bagaimana suatu kebebasan berpendapat dan berpikir itu telah dijamin.

Bertentangan dengan Pancasila

Namun sayangnya, Baca lebih lanjut

Homoseksual, Lesbian, Atheis, Agnostik, Transgender, Mengapa Harus Dipermasalahkan dan Dimarginalkan?

Homoseksual, lesbian, kaum atheis dan agnostik adalah kaum-kaum yang tidak bisa dipungkiri masih sangat direndahkan eksistensinya. Seolah-olah mereka dianggap tidak ada hanya karena masyarakat yang membuang mereka karena ketidaksesuaian dengan yang sudah ada dalam pola umum di masyarakat. Mengapa orang-orang semacam itu harus dimarginalkan? Tidak adakah cara yang lebih abik untuk menerima mereka?

Dengan mudah kita menjauhi orang atheis hanya karena kita menganggapnya tidak ber-Tuhan. Dengan mudah pula kita menjauhi orang agnostik hanya karena ia tidak mau mengakui bahwa agama-agama yang ada adalah wahyu dari Tuhan dan karena kita tidak mau menerima pendapatnya tentang keberadaan agama yang dinilai tidak perlu. Dengan mudah kita menjauhi kaum homoseksual dan lesbian karena merasa jijik dengan mereka. Tidak bisa dipungkiri bahwa Baca lebih lanjut

Kebebasan Berkeyakinan Dalam Konteks Masa Depan Bangsa Indonesia

Kebebasan pada pengertian lain bisa berarti kemerdekaan. Kemerdekaan yang dimaksud adalah suatu cita-cita nan luhur atas sebuah kebebasan dari suatu kondisi yang mengekang, keterkungkungan, pendiskriminasian, ketertindasan atau keterjajahan. Kalaulah dikaitkan dengan hakekat kehidupan manusia, ada yang mengatakan bahwa seorang anak manusia lahir ke dunia adalah merupakan pribadi yang bebas. Karena anak manusia yang terlahir tersebut tidak pernah berpikir akan terlahir dari suku mana, ras mana, bangsa mana, kelas sosial mana, agama apa bahkan bebas dari keharusan untuk tidak beragama sekalipun. Ada kalimat yang menyebutkan bahwa;

Manusia ditakdirkan lahir berbeda-beda. Seseorang tidak dapat memilih dari ibu-bapak, suku, latar belakang sosial atau bangsa mana ia akan lahir.Perbedaan itu tidaklah memberi hak kepada siapapun untuk melakukan diskriminasi hanya karena asal-usul seseorang.”

 

Pembukaan UUD 1945 menyebutkan diantaranya : “kemerdekaan adalah hak segala bangsa”. Kemerdekaan yang direbut para pahlawan bangsa adalah kebebasan atau kemerdekaan dari kolonialisasi penjajah bangsa asing pada masa itu. Kebebasan atau perjuangan kemerdekaan pasca revolusi kemerdekaan dan selanjutnya adalah Baca lebih lanjut