Tuhan-Alam-Manusia

KEARIFAN LOKAL SUNDA

Nilai-nilai budaya Sunda tua diperoleh dari suku Baduy Dalam, Kampung Naga dan desa-desa adat lainnya di daerah Sunda, yang diturunkan secara lisan dari orang-orang tua ke generasi dibawahnya, beserta prasasti-prasasti yang masih ada. Menurut orang-orang tua mereka diberi tahu bahwa ilmu mengenai tata ruang wilayah dibuat pada abad 8 dan sudah dituliskan, pada abad ke 14, kitab-kitab tersebut dibawa oleh penjajah (Belanda dan Portugis) untuk kepentingan mereka. Kepentingan mereka adalah kepentingan ekonomi dengan merubah tatanan ruang di Indonesia, seperti halnya perkebunan teh dll.

Bahasa SUNDA berasal dari SUN DA HA, yang mengandung arti SUN adalah Diri, DA adalah Alam dan HA adalah Tuhan. Artinya kearifan lokal dapat digambarkan dengan mengidentifikasi tiga ranah (domain) tempat kearifan lokal itu berlaku. Ranah pertama adalah DIRI, yaitu hubungan antara manusia dengan manusia; kedua, ALAM, yaitu hubungan manusia dengan alam; dan ketiga TUHAN, hubungan manusia dengan Tuhan atau Sang Pencipta.

SUN, yang merupakan Diri, terwujud dalam hubungan pribadi dengan pribadi, pribadi dengan komunitas. Beberapa nilai-nilai kearifan lokal:

– Hade ku omong, goreng ku omong (segala hal sebaiknya dibicarakan) ® keterbukaan dalam hubungan pribadi sebaiknya dibicarakan.

– Undur katingali punduk datang katingali tarang ( pergi tampak tengkuk datang tampak pelipis) perilaku kita sebagai anggota komunitas harus diketahui oleh anggota komunitas lain.

– Someah hade ka semah (Ramah dan baik terhadap tamu)

– Mun aya angin bula bali ulah muntang kana kiara, muntang mah ka sadagori ( kalau ada angin putting beliung, jangan berpegang kepada pohon beringin tetapi pada rumput sadagori) ® rumput sadagori adalah tanaman kecil atau rumput dengan akar yang sangat kuat, yang diungkapkan sebagai rakyat kecil.

DA, yang merupakan hubungan manusia dengan alam dengan jelas diperlihatkan oleh komunitas adat Sunda, misalnya komunitas Baduy, Pancer Pangawinan, Kampung Naga, dan sebagainya. Dasar dalam melakukan cinta terhadap alam diungkap dalam ungkapan Suci Ing Pamrih Rancage Gawe . Antara manusia dan alam adalah bagian yang menyatu tidak terpisah. Masyarakat adat beranggapan bahwa mereka hidup “bersama” alam, dan bukan “di” alam seperti sikap kebanyakan anggota masyarakat modern. Oleh karena itu, masyarakat tradisional memiliki solidaritas yang lebih kuat dengan alam. Kegiatan terhadap alam terlihat pada ungkapan “Leuweung ruksak, cai beak, ra’yat balangsak ” (Hutan rusak, air habis, rakyat sengsara), atau “Leuweung kaian, gawir awian, legok balongan ” (Hutan tanami kayu, tebing tanami bambu, palung jadikan kolam).

HA, yang merupakan hubungan manusia dengan Tuhan tidak semata-mata diungkapkan dalam perilaku komunitas-komunitas itu, melainkan juga dalam ungkapan, seperti yang kita baca dalam buku Sang Hiang Siksa Kanda Ng Karesian (Terbit abad XVI), yaitu Tapa di nagara (Bertapa di tengah-tengah kehidupan sehari-hari). Bagi anggota komunitas tradisional, hidup itu sendiri adalah bertapa (ibadah). Hidup adalah menyucikan diri agar layak berhadapan dengan Tuhan Yang Maha suci.

Penggabungan terhadap ranah-ranah tersebut adalah Menyakini bentuk ibadah yang tertinggi dan rasa syukurnya kepada Sang pencipta adalah berupa : kebersamaan untuk menjaga alam, dan memelihara pohon.

Pandangan-pandangan yang berkaitan dan yang mendasari terhadap pemahaman lingkungan dalam adat sunda adalah:

PEMAHAMAN TENTANG ALAM. Masyarakat sunda memiliki falsafah, bahwa antara manusia dan alam merupakan sebuah bagian yang menyatu. Manusia merupakan sebuah bagian dari sub sistem alam “seke seler ” hingga memiliki kesamaan rasa dan ikatan batin dan lahir yang sangat kuat.

PANDANGAN TENTANG GUNUNG. Selain memandang sebagai sumber utama kehidupan, gunung juga diyakini sebagai salah satu tempat yang memberikan unsur sistem tubuh bagi manusia dalam wujud “sari pati” yang ditransformasikan melalui “air”. Maka penamaan bagian2 gunung pun sama dengan penamaan bagian tubuh manusia.

PANDANGAN TENTANG AIR. Merupakan sebuah unsur alam yang menjadi bahan dasar terbentuknya tubuh dan jiwa manusia. Selain itu juga air menjadi sumber bagi kebutuhan hidup manusia selamanya.

Pandangan-pandangan tersebut diatas sesuai dengan konsep ekologi yaitu dimana hubungan timbal-balik antara manusia dan lingkungannya sangat berkaitan erat dengan pola perkembangan suatu wilayah dimana segala sesuatu yang dilakukan kepada lingkungannya akan berpengaruh balik terhadap ekologi yang ada di sekitarnya dapat bernilai positif dan bernilai negatif tergantung dari bagaimana pengelolaan yang dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekologi. Manusia mempunyai tanggung jawab dan pengaruh yang besar terhadap perubahan lingkungan di sekitarnya, perkembangan dan kemajuan teknologi dari waktu ke waktu dapat mempengaruhi perubahan-perubahan pola penggunaan lahan, pertumbuhan masyarakat, urbanisasi, pertanian, ekonomi dan sosial budaya.

Dari pandangan dan pemahaman kearifan lokal Sunda di atas, dapat dilihat pada ilustrasi gambar yang sy sertakan pula!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: