Jawa-wanua (Kerbau)

jawa berasal dari asal kata ‘jawi’ yg berarti wanua atau kerbau. jadi bangsa yg hidup dr pertanian yg disimbolkan sbg kerbau. 

Wanua. Apakah wanua itu? Apakah pernah perhatikan dengan teliti mengenai kerbau? atau karna hanya sosok hewan sehingga disepelekan??

apa itu wanua? : “wanua adalah kerbau !”.
…NAWA —– WANA – RA.

Kenapa kerbau ? perhatikan rumah Gadang (Gading-gading bagian dari PERAHU) di Minangkabau (Minang Kalbu), rumah adat Taraja, rumah adat di Minahasa, rumah Joglo sebagai kandang kerbau di tanah Jawa sebagai kerbau yang ‘bersabda’ dari dalam kandangnya (Sabdo Palon ). Karena di seluruh kesatuan adat di Nusantara bila dicermati kerbau sebagai Kosmologi luhur. .

Apakah kita (dalam hidup ) pernah berusaha untuk meng-kandang-kan kerbau ?
kerbau tidak akan pernah mau di-kandang-kan.
Namun, kerbau memiliki keinginan tertentu yang bisa membuatnya betah di dalam kandang.
Kerbau memiliki kemampuan untuk membentuk ekosistemnya sendiri.
Keinginan itu terbentuk dalam sebuah siklus kehidupan kerbau.
Ada kalanya, dimana kerbau harus merumput. Ada kalanya, dimana kerbau harus berkubang. Oleh karenanya, kehidupan kerbau tidak akan bisa jauh dari tanah, air, dan lumpur hingga bisa difungsikan sbg “Pembajak Sawah-Ladang”.
Ekosistem yang dibentuk kerbau inilah, yang kemudian menjadi pondasi dasar kehidupan rakyat Nusantara. Di tempat kerbau berada, pastilah banyak air, tanahnya subur, dan cocok untuk “ber-Thani” (kerbau).
Kesatuan hidup diantara kerbau dan rakyat nusantara membentuk sebuah ciri kosmologi Nusantara.

Wanua (selanjutnya setelah ini kita baca sebagai Desa, dari asal kata de-ca yg berarti tanah-air ) merupakan representasi dari Kosmologi Nusantara, yang memiliki Ekologi, Ekosistem serta Ekonomi sesuai dengan Bumi Nusantara Kegiatan Produksi dalam wilayah Desa terutama didasari atas pertanian, peternakan dan perikanan.
(Budi Daya Pertanian, Budi Daya Peternakan, Budi Daya Perikanan)

Dikisahkan bahwa wanua itu merupakan kesatuan komunitas kecil yang berdaulat ( seperti layaknya “desa” sekarang ) dengan pemimpin mereka yang diberi julukan “rama” (artinya: ayah ).

Desa tampaknya telah dikenal dan berkembang sebagai simpul musawarah dalam wilayah-wilayah di Nusantara.

Musawarah diperlukan sebagai media untuk merencanakan sistem irigasi areal persawahan. sehingga dahulu tak ada DEMO yang KERAS (Demo Crazy).
dimana Musawarah begitu dimaknai Musat’aken Wewarah!!

Semakin luas areal persawahan maka semakin kompleks dan rumit pula sistem irigasi yang dikembangkan.
Tanpa adanya musawarah, mustahil bagi warga desa untuk mengembangkan sistem irigasi mereka.
Luasnya areal persawahan juga berdampak pada akses tiap Desa terhadap daerah aliran sungai, yang karenanya melibatkan lebih banyak pula Desa-Desa yang ada dan bergantung pada sungai tersebut.
Desa kemudian berkelompok dalam sebuah “watak”. Watak ini kiranya merupakan persatuan dari Desa-Desa. Watak meliputi wilayah yang lebih luas lagi yang otoritasnya dipegang oleh seorang pemimpin dengan julukan “Rakai” ( artinya: kakek ).
Seorang Rakai harus memiliki jiwa watak yang mewakili keseluruhan desa pembentuknya.
Persatuan yang lebih luas dan memiliki hierarki otoritas masyarakat tertinggi adalah “Ratu” ( artinya: nenek moyang).

Pemaknaan dan Pemahaman kalimat Suku terkesan berbeda dari persepsi saat ini yang tak sinkron dengan dahulu, dimana SUKU bermakna:::

Suk —> Merasuk (Sukma). sukma para leluhur akan selalu bersemayam dalam kepribadian keturunannya

Ku —–> Kaluhuran, kaluhuran sesepuh MOYANG tiap daerahnya adat masing-masing,

sehingga ajaran SUKU bisa MERASUK NILAI-NILAI KALUHURAN bagi warga desanya sebagai ADAT dalam TRADISI setempat,
penuh falsafah kehidupan yang Adi Luhung (Ahuuuungggg …. )

walau saat ini banyak Adat telah ber-sintesa susah menelusuri yang mula-mula (Wiwitan Jati)

jadi Jawa tidak identik dengan suku bangsa jawa spt yg dipahami saat ini, tp spirit atau jiwa atau ahlak yang luas menjunjung Bumi dan sgala isinya.

tahukan kenapa bangsa nusantara ini ‘keras kepala’ krn merupakan bangsa kerbau yg mandiri dan tidak suka diatur-atur /di’belenggu’ nalarnya (Plong-Nga Plong-Ngo koyo kebo, berpura2 bodoh jk ditekan).
bukankah tidak ada istilah angon kerbau, bangsa2 nomaden-lah di di timur-tengah dan 4 musim (nomadic pastorial/penggembala nomaden) yg angon atau menggembalakan kambing/domba.

silakan ‘gembalakan’ terus (dgn semua nilai dan cara hidup asing) bangsa ini, ia akan tetap terlihat ‘bodoh dan dungu’ (KEBO’ ne malah nyusu GUDHEL saiki) atau suatu ketika akan bangkit melawan keterjajahannya spt kerbau gila (BANTENG KETATON).
Nyruudhuukkkkkk ……… karna sudah di Ujung Tanduk.

inilah watak kerbau….. kerbau yang slalu ingin ada manfaat bagi Tanah Air dan isinya (Kebo Kanigoro-Kebo Ka Naga Ra),
Rahayu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: