Politik, Tradisi dan Adat Istiadat

POLITIK itu melahirkan aturan atau hukum .Aturan/hukum yang jika didalam wilayah rumah tangga disebut ADAT Istiadat dari tradisi yg berlangsung .Aturan diluar rumah dikenal dengan HUKUM Positif (hukum negara-Per-Undang Undangan) . Artinya pahamilah bahwa POLITIK adalah mutlak didalam hidup dan kehidupan , kita semua adalah makhluk politis . Jangan memberi stigma buruk pada POLITIK secara generalisir dan membabi buta. 
Kegagalan politik rumah tangga berakibat pada anak yang ngga tahu aturan , ketika bermasyarakat perilakunya asosial .Masyarakat yang tak mengenali adat istiadat/tradisinya adalah komunal masyarakat dng pribadi2 yang ‘chaotic’. Adat dan Tradisi itu selalu bersifat melekat dan ada didalam pikiran serta perilaku kita sampai dengan hari ini . Adat istiadat dan tradisi itu tidak tertinggal di ‘belakang’ , sementara masa depan ada jauh di’hadapan’ , namun bagaimana bisa membangun masa depan? kalau tidak berhubungan masa lalu dan hari ini 
Perlu diketahui: bahwa Baca lebih lanjut

Tata Budidaya Suci Jawa Hwuning

I. Jaman JAMAJUJA (Puluhan ewu tahun kepungkur)

 

 

Dhek jaman semana Pegunungan Kendheng kuwi wujude ana pegunungan 2 (loro):

 

1. Pegunungan Kendheng Kidul, karan Pegunungan Kendheng tuwa.

2. Pegunungan Kendheng Lor, karan Nusa Kendheng.

 

1. Pegunungan Kendheng Kidul

 

Kuwi dununge wiwit saka wetan Pegunungan Kabuh, Kabupaten Jombang, mbanjeng mujur mengulon tutug Pegunungan Masaran, Kabupaten Sragen.

Sabab saka anane lindhu prakempa Gunung Lawu jaman sangang ewu tahun kepungkur, ndadekake Pegunungan Watujago bengkah omblah-omblah mujur mengulon; wasana dadi Lembah Ngawi kanggo dalan iline Bengawan Sala nrabas menggok ngalor tutug Cepu.

Sakdurunge ana lindhu gedhe, Pegunungan Watujago tutug Pegunungan Masaran kuwi dienggoni menusa sing isih wuda mblejed, wujude kaya kethek-rangutan gedhe pangane rupa kewan: kodok, kadal, ula, cacing, jangkrik, walang, sarta woh-wohan: mulwa, srikaya, mete, dhuwet, popohan, nanas lan liya-liyane.

Kabeh mau mung cukup ngapek utawa nyekel ning alas panggonane urip neng kono. Panggonane turu ning gowok sing dhuwur utawa pang-pang gedhe, durung ana sing wani turu ning guwa; sabab guwa-guwa kuwi mesthi dienggoni macan gembong. Wong mau yen mati bangkene diumbar ngenggon kono nuli ditinggal lunga, wekasane diothel-othel dipangan kewan galak; balunge pating kececer ning kana-kana katut banjire Bengawan Sala padha nyangrah ning mbereman Gemolong, Kalijambe, Kabupaten Sragen, wasana kurugan lumpur lan padhas linede Bengawan Sala, uga ana sing tutug mbereman Ngandong, Kabupaten Ngawi.

Wong pulo liya sing wis padha duwe tata-budaya, olehi ngarani wong ngono mau aran Wong Legena. Uga ana sing ngarani Gandaruwo. Ana maneh sing ngarani Kethek Limuri.

 

2Pegunungan Kendheng Lor

 

Pegunungan Kendheng Lor (Nusa Kendheng) watara limang ewu taun kepungkur wis dienggoni wong sing luwih maju tinimbang wong Legena, wong-wong mau wis bisa gegaweyan gaman-watu diasah landhep. Nusa Kendheng kuwi nalika semana isih wujud Pulo gedhe cawang telu kang kinilung Teluk Lodhan lan Segara; ing sisih wetan ngongkang Telok Lodhan lan Segara Kening. Sisih kidul keledan Segara Selat Kendheng-Kidul lan Segara Teluk Lusi. Sisih kulon Segara Teluk Serang kang tepuk karo Segara Selat Murya. Sisih lor Teluk Juwana lan Samodra Jawa kang jembar lerab-lerab. Gunung Murya isih wujud gunung geni dhuwur-ngukusan, dikilung segara.

Nusa Kendheng kuwi ora duwe tanah ngare lembah banthak tadhah udan kang ngembong banyu; wujude mung pegunungan alelengkeh jurang lan gompeng; ing sawetara gompeng ana guwa-guwane padhas sing jembare mung sarompok teba. Neng bumi Nusa Kendheng kono kuwi ora ana thethukulan pari lan jumawud, sing ana mung jalinthing, canthel, lan jagung-kodhok kang thukul subur neng lelowah sing ngembes; wohe dadi pangane kethek, bethet lan bantheng. Ning alas kono lebeng wite: jati, trenggulun, sawo-kecik, mete, klethuk, lan mulwa. Baca lebih lanjut

Tingkepan

Upacara tingkepan disebut juga mitoni berasal dari kata pitu yang artinya tujuh, sehingga upacara mitoni dilakukan pada saat usia kehamilan tujuh bulan, dan pada kehamilan pertama.
Dalam pelaksanaan upacara tingkepan, ibu yang sedang hamil tujuh bulan dimandikan dengan air kembang setaman, disertai dengan mantra2 khusus.

Tata Cara Pelaksanaan upacara Tingkepan :

1. Siraman dilakukan oleh Baca lebih lanjut

Ramayana

R A M A Y A N A

Ramayana sebenarnya diambil dari ceritera yang benar-benar terjadi di daratan India. Saat itu daratan India dikalahkan oleh India Lautan yang juga disebut tanah Srilangka atau Langka, yang dalam pewayangan disebut Alengka. Tokoh Rama adalah pahlawan negeri India daratan, yang kemudian berhasil menghimpun kekuatan rakyat yang dilukiskan sebagai pasukan kera pimpinan Prabu Sugriwa. Sedang tanah yang direbut penguasa Alengka dilukiskan sebagai Dewi Sinta (dalam bahasa Sanskerta berarti tanah). Dalam penjajahan oleh negeri lain, umumnya segala peraturan negara dan budaya suatu bangsa akan mudah berganti dan berubah tatanan, yang digambarkan berupa kesucian Sinta yang diragukan diragukan.

 Maka setelah Sinta dibebaskan, ia lantas pati obong, yang artinya Baca lebih lanjut

Kemboel Dewi Sri

DEWI SRI Bagi masyarakat agraris tradisional Jawa dijadikan symbol Dewi Padi. Dewi yang berhubungan erat dengan kesuburan, rejeki dan kesejahteraan. Dengan kepercayaan tersebut, pada rumah-rumah masyarakat tradisional Jawa disediakan ruang khusus untuk bersemayamnya Dewi Sri yang dinamakan Senthong.

Senthong adalah ruangan paling belakang yang terdiri dari tiga bagian yaitu : 1. Senthong kanan (patunggon) digunakan untuk kamar tidur bapak dan ibu pemilik rumah 2. Senthong kiri (lumbung) digunakan untuk menempatkan hasil bumi berupa padi dan palawija. 3. Senthong tengah atau Krobongan. Di senthong tengah ini diletakkan pasren atau pedaringan, yaitu tempat tidur lengkap yang ditata indah, dengan bahan kain bermotif cindhe. Pemilik rumah menggunakan ruangan ini untuk melakukan ritual doa, memohon kepada Tuhan agar Dewi Sri berkenan tinggal dan berbaring di pedaringan yang telah disediakan. Karena dengan bersemayamnya Dewi Sri atau Dewi Padi dipercaya bahwa keluarga yang bersangkutan senantiasa dilimpahi berkah rejeki sehingga hidupnya makmur sejahtera lahir batin. Baca lebih lanjut

Jangan Kau Gadaikan Jiwa Nusantara mu

Garuda Panca Sila

Panca Sila

Adalah hasil dari penggalian yang sedalam-dalamnya di dalam jiwa rakyat Nusantara sendiri. Di dalam Panca Sila ada dua sifat, yaitu statis dan dinamis. Statis tujuannya mempersatukan, dan dinamis tujuannya tuntunan atau arah perjalanan bangsa Indonesia sendiri. Dasar yang statis harus terdiri dari elemen-elemen di mana “di dalamnya ada jiwa Indonesia”. Kalau kita tidak mempersatukan elemen-elemen jiwa Indonesia, maka tidak mungkin dibangun dasar untuk negara Indonesia dengan jiwa bangsa Indonesia.
Saat ini semua berubah, kita telah memasukkan elemen-elemen asing ke dalam jiwa bangsa Indonesia, maka ini tidak akan menjadi dasar yang sehat dan kuat, apalagi untuk mempersatukan jiwa rakyat Indonesia. Sadar atau tidak sadar, kita telah melanggar hukum alam dalam jiwa bangsa ini sendiri. Karena hakekat dan jiwa kaum dan bangsa ini, yang telah dipersatukan dalam satu wadah yang diberi nama bangsa Indonesia, telah dilanggar dari segala elemen-elemen yang bukan jiwanya sendiri.

Pada saat catatan dibuka, bahwa para leluhur bangsa ini telah mempersatukan jiwa-jiwa manusia yang ada dalam ketertindasan dijajah oleh bangsa asing, dan dengan Baca lebih lanjut

Tuhan dalam pandangan Jawa

Tuhan adalah “Sangkan Paraning Dumadi“. IA adalah sang Sangkan sekaligus sang Paran, karena itu juga disebut Sang Hyang Sangkan Paran. Ia hanya satu, tanpa kembaran, dalam bahasa Jawa dikatakan Pangeran iku mung sajuga, tan kinembari . Orang Jawa biasa menyebut “Pangeran” artinya raja, sama dengan pengertian “Ida Ratu” di Bali. Masyarakat tradisional sering mengartikan “Pangeran” dengan “kirata basa”. Katanya pangeran berasal dari kata “pangengeran”, yang artinya “tempat bernaung atau berlindung”, yang di Bali disebut “sweca”.
 

Sedang wujudNYA tak tergambarkan, karena pikiran tak mampu mencapaiNYA dan kata kata tak dapat menerangkanNYA. Didefinisikan pun tidak mungkin, sebab kata-kata hanyalah produk pikiran hingga tak dapat digunakan untuk menggambarkan kebenaranNYA. Karena itu orang Jawa menyebutnya “tan kena kinaya ngapa” ( tak dapat disepertikan). Artinya sama dengan sebutan “Acintya” dalam ajaran Hindu. Terhadap Tuhan, manusia hanya bisa memberikan sebutan sehubungan dengan perananNYA. Karena itu kepada NYA diberikan banyak sebutan, misalnya: Baca lebih lanjut

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.