Politik, Tradisi dan Adat Istiadat

POLITIK itu melahirkan aturan atau hukum .Aturan/hukum yang jika didalam wilayah rumah tangga disebut ADAT Istiadat dari tradisi yg berlangsung .Aturan diluar rumah dikenal dengan HUKUM Positif (hukum negara-Per-Undang Undangan) . Artinya pahamilah bahwa POLITIK adalah mutlak didalam hidup dan kehidupan , kita semua adalah makhluk politis . Jangan memberi stigma buruk pada POLITIK secara generalisir dan membabi buta. 
Kegagalan politik rumah tangga berakibat pada anak yang ngga tahu aturan , ketika bermasyarakat perilakunya asosial .Masyarakat yang tak mengenali adat istiadat/tradisinya adalah komunal masyarakat dng pribadi2 yang ‘chaotic’. Adat dan Tradisi itu selalu bersifat melekat dan ada didalam pikiran serta perilaku kita sampai dengan hari ini . Adat istiadat dan tradisi itu tidak tertinggal di ‘belakang’ , sementara masa depan ada jauh di’hadapan’ , namun bagaimana bisa membangun masa depan? kalau tidak berhubungan masa lalu dan hari ini 
Perlu diketahui: bahwa Baca lebih lanjut

Jangan Kau Gadaikan Jiwa Nusantara mu

Garuda Panca Sila

Panca Sila

Adalah hasil dari penggalian yang sedalam-dalamnya di dalam jiwa rakyat Nusantara sendiri. Di dalam Panca Sila ada dua sifat, yaitu statis dan dinamis. Statis tujuannya mempersatukan, dan dinamis tujuannya tuntunan atau arah perjalanan bangsa Indonesia sendiri. Dasar yang statis harus terdiri dari elemen-elemen di mana “di dalamnya ada jiwa Indonesia”. Kalau kita tidak mempersatukan elemen-elemen jiwa Indonesia, maka tidak mungkin dibangun dasar untuk negara Indonesia dengan jiwa bangsa Indonesia.
Saat ini semua berubah, kita telah memasukkan elemen-elemen asing ke dalam jiwa bangsa Indonesia, maka ini tidak akan menjadi dasar yang sehat dan kuat, apalagi untuk mempersatukan jiwa rakyat Indonesia. Sadar atau tidak sadar, kita telah melanggar hukum alam dalam jiwa bangsa ini sendiri. Karena hakekat dan jiwa kaum dan bangsa ini, yang telah dipersatukan dalam satu wadah yang diberi nama bangsa Indonesia, telah dilanggar dari segala elemen-elemen yang bukan jiwanya sendiri.

Pada saat catatan dibuka, bahwa para leluhur bangsa ini telah mempersatukan jiwa-jiwa manusia yang ada dalam ketertindasan dijajah oleh bangsa asing, dan dengan Baca lebih lanjut

Berlayarlah Indonesiaku !!!

 

Berkibarlah Sang Saka Merah Putih

Indonesia itu tidak berani berlayar. Itulah yang selalu ada dalam pikiran saya. Padahal kapal sudah ada, lengkap dengan segala cadangan-cadangannya jika saja suatu saat kapal itu hendak karam atau ada barang satu atau dua komponen yang rusak. Indonesia itu punya semua! Angin sudah berhembus menuju samudera, layar sudah mengembang, sayang nahkoda dan awaknya tidak bersinergi dengan baik.

Mengapa gerangan ini terjadi? Tidak beranikah kau, Indonesia, melepas jangkarmu? Melepas tali tambatmu pada pulau-pulau penghasil buaian mimpi-mimpi semu pencipta kemalasan dan keegoisan? Awak itu sama dibodohinya dengan nahkodanya. Tidak juga disejahterakan, tidak juga didik dengan baik. Mungkin, awak itu tidak mengerti bagaimana Baca lebih lanjut

Bahasa Indonesia yang Kalah di Negeri Sendiri

Sumpah Pemuda yang telah dideklarasikan pada tanggal 28 Oktober 1928 mendeklarasikan tiga hal penting, yakni tentang bertumpah darah, berbangsa dan berbahasa satu, yakni Indonesia. Namun ada satu hal yang patut untuk diprihatinkan sekarang dari Sumpah Pemuda tersebut, yakni pudarnya Bahasa Indonesia di negaranya sendiri sehingga mengingkari apa yang telah disemangati para pemuda seabad silam.

Pudarnya Bahasa Indonesia di negaranya sendiri merupakan sebuah hal yang patut menjadi perhatian khusus. Jika Bahasa Indonesia dibiarkan untuk terus digeser oleh bahasa-bahasa lainnya, maka otomatis Bahasa Indonesia tidak akan pernah lagi dikenal oleh para generasi penerus.

Presiden pun demikian

Fenomena ini pun merembet sampai di kalangan pemerintahan, bahkan Presiden SBY pun nampak sudah mulai mengenyampingkan penggunaan Bahasa Indonesia yang notabenenya akan lebih banyak dimengerti oleh berbagai lapisan masyarakat.

Pada Oktober 2009, Presiden menyelenggarakan sebuah pertemuan dengan para menterinya untuk membahas program kerja Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II yang dibentuknya. Meskipun hanya Baca lebih lanjut

Tuhan Yang Maha Esa Bukan Monopoli Agama

Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia merdeka berasaskan Ketuhanan yang Maha Esa! (Bung Karno,Pidato “Lahirnya Pancasila”, 1 Juni 1945).


Sebelum masuknya agama-agama luar ke Indonesia, masyarakat Indonesia sudah ber-Tuhan dan menjunjung tinggi prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa di atas segala-galanya. Karena itu, tuduhan para penganjur “negara agama” pada sidang-sidang Konstituante, bahwa dari ideologi Islam ke Pancasila adalah “ibarat melompat dari bumi tempat berpijak, ke ruang hampa, vacuum, tak berhawa”,1 justru sangat bertentangan dengan kenyataan sejarah.        Sebaliknya, sejarah membuktikan bahwa Dasar Negara Pancasila berakar pada kepribadian bangsa dalam rentangan perjalanan sejarahnya selama ribuan tahun. Di bawah ini adalah bukti-bukti bahwa prinsip “Ketuhanan Yang Maha Esa” dijunjung tinggi, dan meskipun agama-agama dalam perjalanan selanjutnya diterima, tetapi direfleksikan kembali dalam prinsip Ketuhanan yang lebih universal, mengatasi “agama-agama terorganisasi” (organized religions) yang cenderung sektarian dengan sikap “imperialisme doktriner”-nya yang membahayakan keutuhan bangsa, bahkan peradaban manusia.   I. Prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Lintasan Sejarah Nusantara Bangsa Indonesia dalam lintasan sejarahnya selama beribu-ribu tahun adalah bangsa yang luwes, toleran dan terbuka. Sejak awal sejarahnya yang paling dini, pengaruh agama-agama luar diterima dengan ramah, tetapi Baca lebih lanjut

Brosur Kegiatan Rekor Puisi Indonesia Untuk Bapak Presiden

45 Butir Pengamalan Panca Sila

Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Panca Sila

Seandainya saja Bangsa Indonesia benar-benar meresapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, tentunya degradasi moral dan kebiadaban masyarakat kita dapat diminimalisir. Kenyataannya sekarang yaitu setelah era reformasi, para reformator alergi dengan semua produk yang berbau orde baru termasuk P4 sehingga terkesan meninggalkannya begitu saja. Belum lagi saat ini jati diri Indonesia mulai goyah ketika sekelompok pihak mulai mementingkan dirinya sendiri untuk kembali menjadikan negara ini sebagai Baca lebih lanjut