Agama: Sesuatu yang Tidak Benar dan Tidak Salah

Apakah ada kebenaran di dalam agama, sesuatu yang telah menjadi pedoman bagi hampir seluruh umat manusia selama sekitar ratusan hingga ribuan tahun? Masing-masing agama memang mengklaim bahwa ada kebenaran di dalam dirinya; entah itu melalui konsep Tuhan yang dikonsepsikan melalui dogma maupun melalui Kitab Suci agama masing-masing ataupun melalui paham-paham yang mereka yakini sendiri. Namun, yang menjadi pertanyaan besar adalah, apakah betul bahwa agama itu memang betul-betul mengandung sebuah kebenaran?

Kebenaran diyakini sebagai segala sesuatu yang tidak lagi bisa dibantah, mengandung sesuatu yang absolut dan dapat diterima oleh semua kalangan. Berangkat dari pernyataan ini, kita akan melihat apakah agama itu bisa disebut mengandung sebuah kebenaran yang absolut atau tidak.

Hal utama yang perlu menjadi perhatian adalah adanya eksistensi dari kalangan atheis yang menyangkal klaim-klaim kebenaran yang ada dalam agama. Kalangan atheis ini muncul sebagai kalangan yang menganggap bahwa paham tentang agama adalah sebuah paham yang irasional dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Bagi mereka, agama merupakan sebuah kebodohan dan selanjutnya eksistensi Tuhan pun patut untuk dipertanyakan kusahihannya.

Jean-Paul Sartre adalah tokoh atheis yang mempertanyakan apakah betul Tuhan yang dipercayai oleh agama-agama itu harus ada atau tidak. Baginya, keberadaan Tuhan hanya akan menyangkal eksistensi manusia. Manusia yang seharusnya berdiri sebagai subjek, akan menjadi objek ketika Tuhan ada. Hal ini disebabkan karena manusia nampak sangat ebrgantung pada Tuhan dan segala yang dilakukan oleh manusia, seperti sudah diatur oleh Tuhan. Manusia tidak lagi bebas terhadap dirinya sendiri. Ada yang mengontrol dirinya dibelakang, yakni Tuhan itu sendiri.

Pandamgan dari para kaum atheis ini mengindikasikan satu hal penting, yakni kebenaran yang diklaim oleh agama ternyata tidak bisa diterima oleh semua pihak. Seandainya memang agama betul-betul memiliki sebuah kebenaran yang absolut, maka tidak harus ada kelompok atheis di dunia ini yang meragukan kebenaran agama.

Namun, selain melihat dari sudut pandang atheis, kita perlu melihat dari sudut pandang para theis. Para theis beranggapan bahwa eksistensi Tuhan tidak bisa disangkal sama sekali dan hanya melalui agama saja, kita bisa menemukan suatu kebenaran sejati, yakni kebenaran yang bersumber dari Tuhan itu sendiri.

Dari sini nampak jelas bahwa agama bagi para kalangan theis mengandung sebuah unsur kebenaran absolut yang harusnya tidak boleh disangkal oleh semua pihak. Di dalam agama terdapat sebuah kebenaran absolut, dan jika kita menyalahkan apa yang sudah benar, maka kita sendiri pun akan berada pada pihak yang salah. Bagi para theis, pandangan kaum atheis adalah sebuah kesalahan besar.

Tidak benar dan tidak salah

Dari pemaparan di atas, nampak jelas bahwa terdapat dua pandangan yang saling berkontradiksi. Satu dari kaum atheis dan satu lagi dari kaum theis. Masing-masing berada pada pendiriannya dengan klaimnya terhadap kebenaran yang terkandung dalam sebuah agama.

Untuk menentukan apakah ada kebenaran dalam agama, kita tidak bisa dengan cepat berdiri pada kelompok atheis ataupun pada kelompok theis. Jika kita berdiri pada salah satu di belakang mereka, yang akan terjadi adalah sudut pandang yang tendensius dan akhirnya pencarian terhadap kebenaran di dalam agama tidak bisa ditemukan. Lagipula, setiap manusia adalah subjek, sehingga sudut pandang mereka terhadap segala sesuatu harus selalu dihargai dan tidak bsia diabaikan. Mengabaikan sudut pandang dari salah satu pihak, berarti juga mengabaikan eksistensi manusia itu sebagai subjek.

Menghindari hal tersebut, maka kita harus berdiri di tengah-tengah, yakni tidak berada di belakang kelompok atheis maupun kelompok theis. Selanjutnya, jika kita sudah berada di tengah, kita bisa menentukan apakah ada kebenaran di dalam agama.

Jika kita menelususri dua sudut pandang yang berkontradiksi ini, maka kita akan mendapatkan suatu fakta yang menarik, yakni bahwa agama itu tidak benar dan juga tidak salah. Agama itu tidak benar sejauh mereka ada pada sudut pandang para atheis dan tidak salah selama kita melihat dari sudut pandang theis. Dua sudut pandang ini saling bertolak belakang, sehingga tidak dimungkinkan untuk dilakukan penggabungan diantara keduanya.

Jika kita memaksakan menemukan sebuah titik temu perihal persepsi kebenaran di dalam agama yang bisa mengakomodir sudut pandang dari masing-masing pihak, maka hanya bisa disimpulkan demikian: bahwa agama itu hanya akan benar sejauh mereka tidak memperdayakan umatnya, melainkan memberdayakan umatnya, agama itu benar sejauh ia bisa peka terhadap fenomena-fenomena sosial disekitarnya dan tidak hanya sibuk berkutat dengan doktrin dan dogmanya masing-masing. Memang, sepintas hal ini nampak sangat bersifat duniawi. Namun, jika memang agama diciptakan oleh Tuhan yang sangat baik –sebenarnya tidak pantas menggunakan kata baik karena sangat lebih dari sekedar baik- maka agama juga harus bisa memancarkan kebaikan itu untuk semua orang dan hal ini tentunya tidak berkontradiksi dengan pandangan kaum atheis.

3 Tanggapan

  1. ada suatu hal yang mungkin terlupakan dalam pembahasan ini, yaitu”dogma”,contoh jika umat Islam sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, maka wajib dia melanjutkan perilaku ibadahnya dengan shalat, jadi tidak ada pembahasan lagi tentang memperdayakan umat atau tidak, tapi pada prosedur yang di terapkan agama itu pada umatnya, filsafat agak berlainan dengan agama,agama sudah lebih mempermudah pencarian Tuhan melalui prosedurnya, dan tentu saja penganut atheisme tak akan mampu menjangkau pemahaman penganut theisme, untuk itulah agama diturunkan agar menjadi rachmatan lil alamin…… peace

    • RaHayu…MERDEKA !!!…Makasih atas masukannya…..ditunggu saran2’a yang lebih membangun lagi….

    • saya kira terbalik, theisme yang tak mampu menjangkau pemahaman atheisme. karena jangankan belajar, berpikir untuk atheis saja sudah takut masuk neraka. mau ini itu harus cari rujukan dalam kitab.

      atheis mungkin dengan logikanya belum bisa menemukan “tuhan”, sementara theis, karena malas berpikir menerima saja, karena di kitab menyatakan begitu. mereka takut kalau mengingkarinya akan masuk neraka.

      tapi, yang akan menjadi ilmuwan-ilmuwan top adalah yang atheisme, atau yang membuang “kerangkeng” agama yang menghalangi penelitiannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: