Indonesia: Telah Membunuh Tuhan ?

Membunuh Tuhan? Mungkinkah? Ini merupakan sebuah pertanyaan besar yang mengandung unsur reflektif dan siapapun memang wajib untuk merefleksikannya dalam diri sendiri.

Berangkat dari Friedrich Nietzsche

Nama Friedrich Nietzsche begitu terkenal karena pernyataan frontalnya yang menyebutkan bahwa Tuhan itu sudah mati dan seandainya Tuhan itu masih ada, sudah menjadi kewajiban kita untuk membunuhnya.

Adanya Tuhan, dari perspektif  Nietzsche, menyebabkan adanya sebuah sikap ketergantungan berlebihan yang mengakibatkan manusia stagnan dan kehilangan kreativitasnya. Nietzsche sendiri bisa dibilang sebagai perngkritik Kristen yang baginya dinilai sangat membatasi perilaku-perilaku manusia seperti misalnya perkara mengenai seksualitas.

Bagi Nietzsche, kematian Tuhan ini adalah sesuatu yang mutlak terjadi. Hal ini pada awalnya akan membangkitkan sebuah nihilisme, yakni sebuah keadaan dimana manusia tidak lagi bisa berpedoman kepada Tuhan. Zaman nihilisme ini akan juga disertai dengan kekacauan, namun akhirnya akan muncul seorang ubermensch (manusia unggul) dimana pedoman hidupnya bukan lagi berpatokan pada Allah, melainkan sisi humanis masing-masing pribadi.

Masalah lanjutan yang ditimbulkan dari munculnya ubermensch ini adalah sebuah keinginan untuk berkuasa. Manusia unggul ini adalah seorang manusia yang dengan sendirinya menempatkan naluri-naluriya untuk berkuasa, karena jika kita berangkat dari teori evolusi Darwin tentang seleksi alam, maka yang terjadi di dunia ini hanyalah pertarungan antara yang kuat dan yang lemah, antara yang memiliki niat untuk berkuasa dan tidak, antara mental tuan dan mental budak.

Bahayanya, jika kita tidak bisa membentengi diri kita sendiri, kita akan larut dengan euforia kekuasaan yang secara naluriah menginginkan sesuatu dimana semua akan tunduk dan patuh kepada kita.

Indonesia

Pancasila sebagai filosofi bangsa dalam sila pertamanya menekankan bahwa sebenarnya negara kita adalah negara yang berkeTuhanan atau dengan kata lain, kita mengakui adanya realitas transenden yang menyelubungi bumi pertiwi. Namun, apakah dengan hal itu berarti orang-orang di bumi pertiwi ini akan dengan begitu saja “tunduk” kepada realitas transenden itu? Ataukah mereka akan mengikuti apa yang dikatakan Friedrich Nietzsche untuk membunuh realitas transenden itu demi menghasilkan sebuah kekuasaan mereka sendiri?

Nyatanya, pembunuhan realitas transenden itu sudah berjalan dengan sendirinya, baik disadari maupun tidak. Sebuah kekuasaan amoral di Indonesia yang terbentuk sudah menunjukkan bahwa sebuah hasrat untuk berkuasa memang akan dengan mudah membunuh prinsip-prinsip moral yang pada hakekatnya telah dihayati pada sila pertama dari Pancasila itu.

Badan-badan yang berwenang di Indonesia kini sudah larut dalam euforia kekuasaan, sebuah kondisi dimana nilai-nilai moral dipertaruhkan, kejujuran dijungkirbalikkan, dan masyarakat hanya dijadikan alat sebagai pihak yang berkuasa untuk lebih berkuasa.

Kita bisa melihat hal itu dengan jelas ketika bencana alam melanda bumi pertiwi ini. Ketika jutaan pasang mata menangis berharap bantuan, maka yang timbul dari para penguasa adalah keasikannya dalam menikmati proses pelantikan yang seolah menutup mata terhadap realitas bangsa.

Bukan hanya berhenti sampai disitu. Euforia kekuasaan juga nampaknya takut menelan ludah sendiri. Jika saja dugaan kriminalisasi terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu benar adanya, kita wajib merasa ragu terhadap kualitas moral penguasa kita. Apakah kekuasaan sudah mengalahkan segalanya, membutakan hati nurani dan kepekaan sosial?

Belum lagi ditambah dengan masalah kenaikan gaji menteri dan pejabat di Indonesa di tengah situasi dimana harga minyak sedang berfluktuasi dan jutaan orang masih merasakan betapa indahnya bisa meraih sebutir nasi satu harinya.

Indikasi yang lain tidak hanya terjadi pada birokrasi di Indonesia. Keinginan untuk saling berkuasa bahkan oleh masyarakat sipil tidak jarang terjadi. Pertarungan atas nama agama untuk lahan tempat ibadah, ketidakpedulian sosial dengan rakyat kecil di sekitar kita telah menunjukkan bahwa ternyata naluri kita untuk berkuasa dan mempertahankan egoisme juga telah menutupi kepekaan sosial yang seharusnya menjadi pola acuan untuk kehidupan yang lebih baik.

Inilah realitas yang terjadi pada di Indonesia. Memimpin sebuah negara yang katanya berTuhan dengan rakyat yang katanya juga berTuhan, namun ternyata kita sendiri nampaknya telah membunuhNya. Kita dengan segera menggantikannya dengan hasrat berkuasa mereka masing-masing.

Pertanyaan selanjutnya adalah, mampukah Indonesia ini kembali berTuhan? Setidaknya, janganlah mencoba untuk kembali membunuh Tuhan, melainkan menjadikanNya sebagai acuan dan pedoman agar segala sesuatu di negara ini akan berjalan lebih baik.

Berbekal kemampuan untuk membentengi diri yang cukup, maka setidaknya kita bisa melepaskan diri dari bahaya kekuasaan dan egoisme yang menutupi nurani, kepekaan sosial, dan hasrat untuk meletakkan kepentingan pribadi di atas segalanya.  Sudahkah kita cukup membentengi diri kita? Ataukah kita larut dalam keasikan proses membunuh Tuhan?

4 Tanggapan

  1. salam kenal…
    bingung mau komentar apa … yang pasti tulisannya sangat menginspirasi ….ditunggu tulisan berikutnya

  2. Merupakan sebuah inspirasi yang bagus buat penerus bangsa. Dan bagaimana kita menilainya dengan suatu yang positif dan negatif untuk di bagikan kepada calon-calon pemuda garuda indonesia,,,,

  3. Bingung?! Saya tidak tahu apakah di negeriku Tuhan sudah mati, atau lagi bersembunyi?

    Tapi kalau lihat berita di koran sehari hari, tawuran, korupsi, kekerasan, semerawutnya lalu lintas dijalan raya, kortornya sungai di tengah kota dst, sepertinya sih Tuhan sudah mati dan dibunuh.

    Tuhan yang mana?! Mungkin dari awal mereka sudah tidak memiliki Tuhan sehingga apanya yang dibunuh dan apanya yang mati?! Duh makin bingung si mbah. salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: