Jika Agama Tak Penah Salah

Seperti pada umumnya, bagi Dr Asghar Ali Enginneer juga berpendapat bahwa pada hakekatnya semua agama mengajarkan kebaikan. “Agama adalah sumber untuk menciptakan perdamaian. Itulah esensi agama. Mereka yang menggunakan dalih agama untuk melakukan kekerasan adalah mereka yang bermain dengan kekuasaan” tegas tokoh gerakan nonkekerasan dan reformis dari India ini. Ia mengisahkan sepotong pengalaman yang membawanya terlibat dalam gerakan perdamaian dan menolak kekerasan, termasuk kekerasan komunal.
Asghar Ali mengisahkan “Saya sedang belajar ketika terjadi kekerasan komunal di luar. Saya takut sekali. Pertanyaan ‘mengapa orang melakukan kekejian atas nama agama’ terus memenuhi benak. Lalu saya belajar dan terus belajar, sampai akhirnya menemukan, bukan agama yang menyebabkan semua itu.” Selain menguasai ilmu agama (tafsir, ta’wil, fikih dan hadis), Ali juga mengantongi ijazah sarjana teknik sipil (insinyur) dan sempat bekerja di perusahaan milik pemerintah kota Bombay selama 20 tahun. Ia mulai aktivitasnya secara total di dalam gerakan pada tahun 1972 ketika terjadi kerusuhan di Udiapur.
Pandangan-pandangannya tentang berbagai hal, termasuk kesetaraan hubungan perempuan dan laki-laki serta dekonstruksi teks, dituliskan dalam lebih dari 40 buku dan ratusan artikel di media massa. Seluruh upayanya itu membuat Asghar Ali terpilih sebagai penerima penghargaan Nobel Alternatif, The Right Livelihood Awards tahun 2004 (Kompas, 1/6/06).

BENARKAH AGAMA TAK PERNAH SALAH?
Di dalam konflik komunal yang mengatasnamakan agama, selalu dikatakan bahwa bukan agamanya yang salah, sebab esensi agama adalah sebagai sumber untuk menciptakan perdamaian. Maka, seperti juga Ali yang bertanya “mengapa orang melakukan kekejian atas nama agama?”, saya pun bertanya “betulkah dalam agama hanya terdapat sisi positif?”. Sehingga agama tidak pernah salah dan tidak bisa disalahkan? Benarkah kekerasan semata-mata merupakan kesalahan pengikutnya (umatnya) bukan agamanya? Benarkah agama HANYA mengajarkan kebaikan? Bagaimana jika sesungguhnya yang terjadi adalah agama tidak hanya mengajarkan kebaikan saja (sisi positif saja), namun dalam praksis agama sebenarnya juga tersimpan banyak cacat (sisi negatif) yang akhirnya mendorong terjadinya aksi kekerasan? Apa sisi negatif atau sisi buruk dari agama?
Melalui tulisan saya dalam Epistemologi Agama dan Politik, saya ingin mematahkan argumentasi para ahli yang mengatakan bahwa “tidak ada yang salah dengan agama” yang salah adalah umatnya. Menurut para ahli, kesalahan umat adalah dalam hal menafsirkan ayat-ayat, karena mereka telah bermain dengan kekuasaan (politik). Jadi agama adalah ibarat “gadis suci” yang telah diperkosa oleh kepentingan umat. Bukan gadis sucinya itu yang salah, tetapi kesalahan ada pada pemerkosa.
Saya ingin membuktikan bahwa agama bukanlah “gadis suci” yang wajah kecantikannya sempurna. Namun, agama ibaratnya adalah “gadis dengan seribu wajah” yang disamping menawarkan kecantikan, kemolekan dan keseksian, juga menggoda untuk perselingkuhan. Jika semua esensi agama adalah baik, maka sejarah agama akan berhenti. Pada kenyataannya, Nabi Ibrahim telah merontokkan agama/kepercayaan nenek moyangnya yang dianggap suci itu (agama paganisme), untuk menyembah kepada yang Esa (agama tauhid/monotheisme).
Untuk melahirkan agama (kepercayaan) baru, para nabi atau mereka yang melahirkan agama telah “merevolusi” agama mapan (status quo) yang telah dianut secara turun temurun oleh nenek moyangnya. Bagi para pemimpin agama pro status quo yang saat itu menguasai pemerintahan, tentu sangat berang dengan cara-cara pemikiran atau penyebaran agama/keyakinan baru yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim, Nabi Muhammad, atau oleh Yesus. Sehingga, konon dalam sejarahnya, sebagai bentuk hukuman, Ibrahim dibakar hidup-hidup dalam api yang membara, namun berkat mukjizat dari Tuhan, Ibrahim tetap selamat.
Nabi Muhammad pun setali tiga uang, yaitu selalu diburu-buru untuk dibunuh oleh penguasa Mekkah pada saat itu. Untung dalam pelariannya ke Madinah ( pasca hijriah) akhirnya Muhammad dapat memperoleh banyak pengikut dan memperoleh kesuksesan dalam menyebarkan agamanya di kota yang mula-mula bernama Yatsrib itu. Kesuksesan itu berawal dari kemenangannya dalam perang Badr. Dan kita tahu, perjalanan penyebaran “kebenaran” yang diajarkan oleh Yesus pun akhirnya harus mendapat hukuman yang sangat berat yaitu dihukum mati dalam tiang salib.
Pertanyaan pun akhirnya muncul, apa yang mendorong mereka melakukan tindakan yang berisiko tinggi dengan merevolusi agama sebelumnya? Benarkah tidak ada yang salah dengan agama sebelumnya? Benarkah menyembah berhala termasuk tindak kejahatan/kriminal dan prilaku bodoh dan keliru, sehingga harus dihancurkan? Benarkah yang mendorong para revolusionist di bidang agama, semata-mata hanya karena sistem keyakinan yang berbeda? Mengapa Nabi Ibrahim atau Nabi Muhammad membenci terhadap nenekmoyangnya yang menyembah banyak tuhan/berhala? Atau sebenarnya ada motif politik untuk memerangi prilaku penguasa yang semakin menindas terhadap rakyatnya? Ataukah dua-duanya yaitu revolusi sosial yang menumpang kendaraan agama (mengatasnamakan Tuhan), sehingga akhirnya agama “bersetubuh” dengan politik?
Bagaimana seandainya nenekmoyang Nabi Ibrahim atau Nabi Muhammad yang penyembah berhala itu mengajukan pertanyaan kepada mereka “Wahai Nabi, apakah menyembah Tuhan yang tidak berujud (abstrak) termasuk perbuatan yang lebih cerdas, lebih baik dan benar dibandingkan penyembah berhala? Mengapa kamu merasa takut dan harus menyembah, memuji serta meminta-minta yaitu minta keselamatan, minta pengampunan, minta rejeki, minta hidayah, pertaubatan dan segala macam permintaan kepada angan-angan yang kamu ciptakan sendiri?
Wahai Nabi, Tuhanmu hanyalah berupa angan-anganmu sendiri, oleh sebab itu hanya kamulah yang tahu siapa dan bagaimana wajah Tuhanmu. Sedangkan tuhan kami juga angan-angan kami yang diwujudkan dengan simbol patung, sehingga siapa pun bisa melihat dan memegang wajah dewa kami. Maka mengapa engkau menghancurkan dan mencela kepercayaan kami?
Wahai Nabi, Tuhan kita sebenarnya sama, yaitu sama-sama berupa “angan-angan”, tetapi mengapa engkau memushi kami? Jangan salah wahai nabi, patung ini bukanlah wujud tuhan kami. Tetapi kami yakin patung ini bisa mengantarkan angan-angan kami menuju wujud Tuhan yang sejati. Maka, diantara Tuhan kita mana yang sebenarnya lebih hebat?
Patung-patung kami memang tidak bisa menciptakan sesuatu, tetapi jika kamu mengatakan Tuhanmu yang abstrak itu sebagai maha pencipta, maka apa yang telah dicipta oleh tuhanmu? Bagaimana dan dari mana kamu bisa mengetahui bahwa Tuhan yang abstrak itu adalah pencipta bumi, matahari dan bintang-bintang? Apakah Nabi pernah mengadakan penelitian bagaimana cara Tuhan mencipta?
Ingatlah wahai nabi, bahwa pengetahuan itu berbeda dengan keyakinan. Kalau penciptaan itu hanya berdasar keyakinanmu maka terserah saja apa yang kamu yakini. Tetapi kalau penciptaan itu berdasarkan pada penelitianmu maka kamu harus bisa membuktikan kebenarannya. Kalau kesimpulanmu yang mengatakan Tuhan sebagai maha pencipta berdasarkan pengetahuan, maka kami harus bertanya kepadamu, apa bukti pengetahuan dan kebenarannya? ” Jika ada pertanyaan seperti ini dari para penyembah berhala, lalu apa kira-kira jawaban dari Nabi Muhammad maupun Nabi Ibrahim?
Menurut pendapat saya, cacat agama yang paling mencolok adalah karena di dalam agama tidak ada “kepastian kebenaran”. Tetapi, agama secara bawaan (secara genetis) justru selalu mengatakan “pembawa pesan kebenaran”, tak peduli apakah berasal dari agama monotheis atau polytheis sama saja. Kontradiksi inilah yang melahirkan kekerasan komunal. Kekisruhan dalam agama, karena agama selalu berdimensi dengan wajah ganda, artinya satu sisi berurusan dengan sistem keyakinan (theologisme) dan sisi lainnya sangat erat dengan pemberontakan atas penindasan yang dilakukan oleh penguasa dengan menggandeng tangan Tuhan (berdalih wahyu).
Andai fungsi agama hanya sebagai piranti untuk hubungan vertikal dengan Tuhannya, sedangkan hubungan horisontal (persoalan mu’amalat) untuk sesama manusia dijembatani melalui nilai-nilai etika, estetika dan humanisme maka saya yakin tidak akan terjadi kisruh pertikaian antar sesama pemeluk agama. Sebab, agama didudukkan hanya sebagai kepentingan pribadi, bukan untuk “mengutuk” dan “mengatur” orang lain, melainkan sebagai sarana menuju ketentraman batin diri pribadi. Kalau pun dikatakan bahwa semua agama sebenarnya mengajarkan kebaikan, mungkin yang dimaksud adalah dalam dimensi sosialnya yang berpihak pada kaum yang lemah dan tertindas.
Kalau benar demikian, berarti agama berada pada jalur yang dilematis. Satu sisi ingin membangun kesakralan hubungan dengan Tuhan (hubungan vertikal), tetapi di sisi lain terjun dalam dunia pragmatis (mu’amalat). Sikap mendua ini akhirnya sangat potensial dalam melahirkan kesesatan berpikir. Sebab, tujuan pragmatis (wilayah profan) ini oleh agama selalu dikaitkan dengan sakralisasi dari Tuhan. Sementara kebenaran wahyu diyakini sebagai “kebenaran yang paling tinggi” tak ada lagi kebenaran di atas wahyu. Padahal, kebenaran wilayah profan justru sebaliknya yaitu menganut sistem dialektis.
Selama kita hidup bersebelahan dengan sesama manusia maka yang namanya kebenaran selalu bisa diperdebatkan. Artinya kita sulit mendapatkan kebenaran absolut. Kebenaran wahyu yang bersifat absolut, sangat tidak applicable untuk urusan dunia profan. Inilah kontradiksi dalam tubuh agama yang tak pernah berakhir sampai kapan pun.

ABSOLUTISME AGAMA
Saya pikir, dari sejak awal metode penyebaran agama saja sudah keliru, jadi bagaimana mungkin kita berkata “bukan agamanya yang salah?”. Menurut saya, agama adalah sumber kesalahan akibat dari kekacauan berpikir. Jika pada umumnya orang-orang cerdik pandai mengatakan bahwa pada dasarnya semua agama adalah baik, maka orang awam seperti saya justru berpendapat sebaliknya, yaitu pada dasarnya semua agama adalah buruk. Kok bisa begitu, dimana letak keburukannya? Buktinya dalam transfer keimanan agama, sama sekali tidak terjadi proses dialektika. Tidak ada proses pembelajaran yang bersifat dialektis, tidak ada pembelajaran yang bersifat setara, semua serba dari atas kebawah. Apa yang dituturkan atau disampaikan oleh pemimpin yang teratas yaitu yang disebut Nabi adalah merupakan kebenaran absolut yang tidak boleh diragukan kebenarannya. Prinsipnya apa yang dikatakan nabi sebagai “wahyu” adalah sebuah kalimat sakral yang pasti benar. Wahyu tidak boleh dikritik, sebab mengkritik wahyu sama saja dengan mengkritik Tuhan. Jika kita menolak kebenaran itu, maka kita akan ditempatkan sebagai kaum oposisi/kafir.
Dalam pengajaran agama tidak mengenal tesis dan antitesis. Dalam agama hanya ada tesis, tetapi tesis tersebut tidak pernah benar-benar bisa diuji kebenarananya berdasarkan fakta. Contoh, nabi bersabda bahwa “Surga adalah tempat yang sangat indah dan nyaman” sabda ini jelas harga mati. Sebab ketika kita tanyakan “dari mana nabi tahu kalau surga itu tempat yang indah dan nyaman?” maka jawabannya adalah “pokoknya Tuhan bersabda demikian, jika kamu tidak percaya berarti kamu bukan orang yang beriman”. Akhirnya agama akan berusaha untuk menyingkirkan orang-orang yang berpikiran bebas dan kritis sebagai kaum kafir, bila perlu harus dimusnahkan. Apakah absolutisme kebenaran dalam agama bukan sebagai kejahatan atau keburukan terhadap nilai-nilai intrinsik manusia? Di sini saya berpendapat bahwa semua agama adalah buruk dalam hal keabsolutannya. Agama yang baik hanya ada dalam angan-angan, realitasnya agama itu sebenarnya diktator.
Agama dan Tuhan, sepertinya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat manusia yang melintasi waktu dan bersifat lintas generasi. Didalamnya terbungkus “mistisisme” yang sangat tinggi dengan berbagai dalih eskatologisme dan aspek teleologi. Akhirnya menimbulkan pertanyaan pada diri saya yaitu, Tuhan…., mengapa Engkau selalu dijadikan “alat” perjuangan oleh para pemimpin agama untuk alasan-alasan kemanusiaan? Tidak bisakah manusia berjuang atas nama sesama manusia?
Benarkah Tuhan peduli dengan nasib manusia? Berratus juta manusia yang bernasib malang di dunia ini, bisa menanyakan hal tersebut kepada Tuhannya. Namun, saya tahu, pertanyaan ini tidaklah mungkin mendapat jawaban dari Tuhan. Sebab, andaikata muncul jawaban, maka jawaban itu pasti berasal dari “mulut manusia” yang mencoba berbicara atas nama Tuhan (juru bicara Tuhan). Mereka tentu mengatasnamakan mendapat “wahyu” atau paling tidak mereka mencoba menjawab dengan tafsiran pribadinya.
Pertanyaannya, bisakah manusia “menyatakan” (to explain) bahwa dirinya menjadi juru bicara Tuhan (menjadi nabi)? Jika ada manusia yang bisa menjadi juru bicara Tuhan, tentu ada manusia lain yang tidak bisa menjadi juru bicaraNya. Maka atas dasar apa “klaim bisa” dan “tidak bisa” tersebut dan siapa penentunya? Salahkah manusia yang menolak terhadap konsep “kenabian” dengan produk andalannya yang berupa wahyu itu?

RaHayu….Cag

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: