Nyatakan Kepentingan Hidup

Setiap manusia lahir membawa kepentingan, tak perlu melahirkan jenius psikoanalisa baru lagi untuk itu.
Kepentingan, yang dibawa manusia dalam kaitannya sebagai makhluk social ini bermuara menjadi dua aliran besar, yang satu kepentingan yang mengabdi kepada diri sendiri ataupun kelompok, sedang yang lain adalah kepentingan yang mengabdi pada keseluruhan umat manusia sebagai satu kesatuan social.

Pernyataan dari kepentingan–kepentingan itulah yang disebut ideology, dimana membutuhkan instrumen untuk mewujudkan tujuan dari kepentingan tersebut, yang disebut dengan politik.
Dalam politik inilah kepentingan dikemas dalam nilai-nilai ideal & ilahiah. Sehingga lahirlah apa yang dinamakan Hikmat, Kebijaksanaan, pula Keimanan yang membentuk aparatus pencapai tujuan dalam kelembagan yang disebut agama.

Ah, sebentar … mungkin bagi Anda pernyataan ini terdengar sangat merendahkan agama.
Karena bukankah agama tidak lahir dari kepentingan manusia? Namun adalah Wahyu Ilahi … sapaan & ajakan Tuhan bagi manusia untuk menerima undanganNya yang akan mempermuliakan hidup manusia.
Boleh saja… bukankah kemuliaan hidup manusia yang dari Tuhan, juga adalah bentuk kepentingan manusia yang memperoleh nilai idealnya? Kepentingan akan sebuah kebutuhan fungsi psikologis yang membebaskan diri dari rasa takut bahwa semuanya tidak berarti dan sia-sia?

Sumangga… silahkan saja apapun pendapat kita masing-masing. Asal ada kejujuran yang sungguh-sungguh dalam diri. Sebab nilai kehidupan kita bukan terletak dari keyakinan, ‘pandangan umum’, yang diindoktrinasi dan diinternalisasi sejak kecil tanpa ada refleksi dan testing kritis tentangnya.
Dan saya tak hendak memperdebatkan hal itu. Lewat tulisan ini saya hendak mengajak Anda melakukan refleksi kritis mengenai kemanusiaan kita.

Kembali lagi ke politik, pernyataan kepentingan yang remeh-temeh seperti berebut tempat untuk buang hajat pun bisa mendapatkan nilai idealnya. Baik nilai-nilai ketuhanan maupun nilai-nilai kemanusiaan.
Ambil contoh, ekploitasi alam tanpa batas yang tak mengindahkan kelestarian alam memperoleh pembenaran dari ‘Sabda Tuhan’ yang telah menyerahkan dunia kepada manusia untuk dikuasai sepenuhnya.
Melindungi janda miskin atau mencintai sesama manusia bisa menjadi nilai ideal pembenaran dari hasrat untuk ‘nutupi babahan hawa sanga’ menutupi lubang kemaluan.
Serta slogan menyesatkan dari para penguasa tentang pertumbuhan ekonomi yang tinggi, yang menutupi kenyataan mengenai akumulasi capital yang tidak berpihak pada keadilan social dan pemerataan kesejahteraan.

Di tengah perang sengit kepentingan yang berlangsung, kemanusiaan terancam menjadi sekedar nilai kegunaan saja. Sebab tidak ada lagi wilayah kehidupan yang tidak bisa dijadikan komoditi barang jualan. Manusia sendiri bahkan telah menyusut menjadi sekedar barang jualan.

– Sekolah yang mencetak ‘manusia presisi’ sesuai cetakan, agama-agama yang tak pernah salah, hanya umatnya, ‘manusia’ nya yang salah dalam pemahaman, sebenarnya adalah model-model pelembagaan yang sanggup membangun mekanisme control terhadap manusia.
– Iklan-iklan di media yang mendiktekan gaya hidup kepada kita dengan menjadikan semakin konsumeris & makin kehilangan jati diri.

Disinilah peran penting dari refleksi dan studi kritis akan kemanusiaan kita, kembali ke dasar keberadaan diri kita sebagai seorang manusia. Jujur dengan segala yang terjadi, jujur akan motif-motif yang melatarbelakangi kehendak dan keinginan kita.
Kemanunggalan dengan Rasa, sehingga dalam memperjuangkan atau mengabdi pada suatu kepentingan, kita mampu melihat dalam perspektif yang benar. Tidak sekedar larut sebagai komoditi dan menjadi budak dari kepentingan.
Bagi saya, inilah arti dari spiritualitas, menjadi Diri Sendiri, menjadikan diri kita ‘manusia’ kembali, bukan sekedar barang jualan dari suatu kepentingan. Terbangun dari mimpi panjang yang selama ini kita lelap dibuainya.

Bagi kalian yang menginginkan hidup merdeka, menghayati kemanusian kita, sebuah puisi kupersembahkan, sebuah pernyataan kepentingan dariku :

..mengapa memberi syarat pada hidupmu..?

tanggalkan saja semua bajumu biar tubuh bugilmu buatku terangsang
lalu mari kita maknai ketelanjangan
engkau perempuan aku lelaki
bagai madu dengan manisnya
seperti api dengan panasnya
membiru lautmu mengalun ombakku
menghitam pekat memutih silau
menerang siang menghening malam

tapi kau malah sembunyikan molek indahmu
dengan segala atribut kosmetika palsu
yang kau impikan sebagai kemuliaan
kau khayalkan sebagai kebenaran
ayolah tanggalkan saja semua bajumu
yang hanya akan memerangkap memasung jiwamu
kan kutulis puisi di setiap lekuk tubuhmu
kulukis Waktu.. saat mengada bersamamu

2 Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: