Sewaka Dharma

Naskah atau kropak ini tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Seperti keterangan penulis naskahnya sendiri, naskah ini ditulis oleh Buyut Ni Dawit di Kuta Wawatan, seorang wanita yang pernah bertapa di pertapaan Ni Teja Puru Bancana di Gunung Kumbang. Di manakah letak pertapaan dan gunung tempat pertapaan ini, para sejarawan belum memastikan tempatnya. Mungkin gunung ini adalah Gunung Kumbang (1218 dpl) di Kabupaten Brebes (Jawa Tengah) yang sejak dulu sampai sekarang dianggap mempunyai nilai spiritual tertentu bagi masyarakatnya, di mana penduduk di sekitarnya sampai saat ini merupakan masyarakat Sunda, dan dalam beberapa aspek kehidupannya masih cukup memegang teguh tradisi leluhurnya. Beberapa naskah kuna dari tempat bernama Gunung Sagara (800 dpl)—yang letaknya di lereng selatan Gunung Kumbang)—diambil oleh Rd. Aria Tjandranegara, Bupati Brebes (1880—1885) pada 14 November 1882, kemudian diserahkan ke K.F. Holle untuk diteliti, yang kabarnya kemudian disimpan di Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Meskipun penduduk kampungnya telah tidak ada setelah peristiwa pengambilan naskah oleh bupati tersebut, tempat Gunung Sagara sampai saat ini masih ada dan dikeramatkan. Kuta Wawatan, menurut para sejarawan terletak di Priangan sebelah timur, karena penulis naskah Sewaka Darma menyebutkan nama Kendan, Medang, dan Menir yang masing-masing merupakan tempat kediaman Resi Guru Manikmaya, Kandiawan, dan Wretikandayun di daerah Priangan timur.

Isi naskah Sewaka Darma secara umum berbicara mengenai ajaran yang menguraikan cara persiapan jiwa untuk menghadapi maut sebagai gerbang peralihan ke dunia gaib. Menurut Danasasmita, dkk. naskah ini merupakan salah satu bukti tentang berkembangnya aliran Tantrayana di kawasan Jawa Barat pada masa silam. Ajarannya menampilkan campuran aliran Siwa Sidanta yang menganggap semua dewa sebagai penjelmaan Siwa dengan agama Buda Mahayana. Berdasarkan isinya, usia naskah jauh lebih tua dari tipe hurufnya yang berasal dari abad ke-18 Masehi. Karena ajaran yang tersurat di dalamnya mengenai kelepasan jiwa (moksa) dengan gaya penuh kesungguhan, sulitlah diterima bila hal itu dikerjakan dalam suasana abad ke-18, bahkan abad ke-17 sekalipun. Pekerjaan itu hanya mungkin dilakukan pada saat agama Islam belum merupakan anutan umum di kawasan Jawa Barat. Sehingga diduga naskah ini merupakan salinan dari naskah yang lebih tua. Mungkin sekali naskah aslinya disusun paling tidak dalam abad ke-15 Masehi ketika anasir Hindu dalam kehidupan religi masyarakat Jawa Barat belum merosot terlalu jauh

Sewaka Darma dibuka dengan kalimat:

 

Ini kawih panyaraman, pikawi[h]eun ubar keueung, ngaranna pangwereg darma, ngawangun rasa sorangan, [h]awa[k[aneun sang sisya, nu huning sewaka darma.

 

(Inilah kawih [kidung] nasihat, untuk dikawihkan sebagai obat rasa takut, namanya penggerak darma, [untuk] membangun rasa pribadi, [untuk], diamalkan para siswa, yang paham sewaka darma).

Istilah “kawih” sampai sekarang masih digunakan oleh masyarakat Sunda dalam pengertian lagu atau nyanyian vokal. “Panyaraman” masih mempunyai kesamaan dengan bahasa Sunda sekarang, berasal dari kata “caram” (di Priangan barat umumnya menggunakan kata “carek” yang searti dengan kata ini), artinya “larang” atau “peringatan”. “Kawih
panyaraman” berarti “nyanyian (tentang) larangan” atau “nyanyian (tentang) peringatan”, yang bisa juga berarti “nyanyian (suatu) nasihat”.

Berdasarkan teks tersebut naskah ini ternyata bernama Kawih Panyaraman, dan merupakan teks yang cukup panjang, yaitu 37 lembar dengan tulisan sebanyak 67 halaman. Apakah teks Kawih Panyaraman ini bisa dan biasa dinyanyikan (dikawihkeun), hal ini tidak dapat dipastikan. Akan tetapi bila dipegang asumsi bahwa istilah “kawih” dalam naskah ini masih searti dengan istilah “kawih” zaman sekarang, maka ada kemungkinan bahwa teks ini bisa dan biasa dinyanyikan pada zamannya. Sampai abad ke-19, bahkan pertengahan abad ke-20, untuk membaca suatu teks yang panjang, orang Sunda biasanya akan membacanya sambil dinyanyikan. Tujuannya, seperti dikemukakan Moriyama (2005:66), bagi orang Sunda, mendaraskan dangding (ditembangkeun) adalah hiburan sekaligus pendidikan. Bisa dibandingkan pula dengan artefak hidup seni pertunjukan buhun yang masih hidup sekarang dan menonjolkan sisi isi teks lagu, yaitu pantun. Pantun yang teksnya sangat panjang disajikan dengan cara dikawihkeun (dinyanyikan) pula. Teks Kawih Panyaraman sangat “hidup” karena memberikan pesan isi, namun sebaliknya secara karawitan—bila teks ini pada zamannya bisa dan biasa dinyanyikan—maka naskah ini merupakan teks mati karena tidak bisa memberikan gambaran bagaimana teks ini seharusnya dinyanyikan seperti pada zamannya.

Pada akhir halaman ke-8 terdapat kalimat:

Lamun beuteung nu ngu[n]dang, lamun hanteu nu nyarita, panggung lagi data(ng) mene(ng), kari raga tanpa mudela, leuwih tan kautamaan, lamun a(ng)geus diti(ng)galkeun, ku na bayu sabda hedap.

 

(Kalau kosong yang mengundang/memanggil [tontonan], kalau tak ada orang berkisah [bermain sandiwara], panggung lagi musim sepi, tinggallah raga tanpa gairah, yang lebih tak berarti lagi, bila sudah ditinggalkan, oleh daya hidup ucap dan tekad, aku [ditinggalkan] Sanghyang Hidup).

Teks tersebut merupakan illustrasi simbolis yang mempunyai kaitan dengan isi teks keseluruhan tentang kehidupan manusia sebagai mahluk yang diciptakan Tuhan dengan segala perbuatannya, dan adanya batas kehidupan dan kematian yang selalu akan menimpa manusia. Ada tiga kalimat yang menarik dari teks ini, yaitu tiga kalimat pertama. Kalimat pertama (lamun beuteung nu ngu[n]dang; kalau kosong/tidak ada yang mengundang) mengingatkan bahwa suatu kesenian pada zaman lampau telah biasa ditampilkan dengan cara diundang oleh orang lain. Kalimat kedua (lamun hanteu nu nyarita; kalau tak ada orang berkisah) mengingatkan adanya suatu kesenian yang disajikan dengan cara berkisah atau bercerita, yang oleh Danasasmita, dkk. diberi pengertian bahwa yang dimaksud adalah kesenian (sejenis) sandiwara. Kalimat ketiga (panggung lagi data[ng] mene[ng]; panggung lagi musim sepi) mengingatkan bahwa kesenian pada zaman itu telah biasa ditampilkan dengan cara diundang (panggung; manggung; mempertunjukkan), dan ada waktunya kesenian tersebut tidak ada yang mengundang, mungkin karena berkaitan dengan waktu-waktu tabu bagi adanya suatu hiburan, seperti halnya pada masa sekarang di tempat-tempat tertentu yang masih menjalankan tradisi lama. Dengan demikian, tradisi mengundang kesenian untuk suatu keperluan dan adanya waktu-waktu tertentu untuk menampilkan kesenian, sudah merupakan tradisi yang telah berlangsung sejak dahulu kala.

Pada halaman ke-37 terdapat kalimat centam kadi wayang-wayangan, yang artinya cemerlang seperti wayang-wayangan. Kalimat ini berkaitan dengan penggambaran suatu tempat di surga yang sangat indah. Penulisnya, membuat hiperbola keindahan “wayang-wayangan”. “Wayang-wayangan” di sini mengarah pada nama suatu benda atau peristiwa pertunjukan, meskipun mungkin bisa berarti “bayang-bayang”. Sangat terbuka kemungkinan bahwa kata ini diambil dari kosa kata seni pertunjukan wayang yang ada pada zaman itu.

Selanjutnya pada akhir halaman ke-44 (sebagai baris pertama kalimat) dan halaman ke-45 (mulai baris kedua) terdapat kalimat sebagai berikut:

Nu na[ng]gapan, sada canang, sada gangsa tumpang kembang, sada kumbang tarawangsa ngeui[k], sada titila[r]ri[ng] bumi, sada tatabeuhan jawa, sada gobeng direka cali[n]tuh di a[n]jung, sada handaru kacapi la[ng]nga, sada keruk sagung.

 

(Terdengar bunyi-bunyian, suara canang, suara gamelan tumpang kembang, suara kumbang dan tarawangsa menyayat, suara peninggalan bumi, suara gamelan Jawa, suara baling-baling ditingkah calintuh di dangau, suara deru kacapi penuh khawatir, suara sedih semua).

Ada delapan nama instrumen musik yang disebutkan di sana, yaitu: canang, gangsa, kumbang, tarawangsa, tatabeuhan jawa, gobeng, cali[n]tuh, dan kacapi. Karena di depan nama-nama instrumen musik tersebut terdapat kata “sada” maka kami sendiri tidak mengartikan kata itu sebagai “suara”, tetapi “seperti bunyi”, sesuai dengan arti sebenarnya dalam bahasa Sunda. Di sini digunakan kata “bunyi”. Dalam karawitan biasanya untuk bunyi yang keluar dari suatu alat musik digunakan kata “bunyi”, sedangkan bunyi yang keluar dari vokal manusia digunakan kata “suara”.

Menarik sekali bahwa di sini disebutkan nama instrumen musik canang. Dalam kosa kata karawitan Sunda sekarang tidak ada istilah ini. Akan tetapi bila mengingat bahwa dalam kosa kata Sunda di daerah tertentu pada masyarakat Sunda sebelah barat, sering dijumpai istilah yang terasa berbau bahasa Melayu (misalnya “ayah” untuk bapak, “barat” untuk barat dekat, “timur” untuk timur dekat), maka “canang” juga bisa diduga merupakan kosa kata Sunda dari masa lampau akibat persentuhan masyarakat Sunda dengan Lampung, Melayu, atau Palembang, yang pada masa kerajaan Sunda dahulu sering mempunyai hubungan antarkerajaan dan kemasyarakatan. Kata canang dalam kelompok Melayu biasanya ditujukan terhadap instrumen musik berpencon sejenis bonang dalam gamelan Sunda atau Jawa sekarang. Kata bonang sendiri dalam kosa kata karawitan Sunda sekarang diduga baru dikenal bersamaan dengan masuknya gamelan ageng Jawa salendro-pelog sebagai salah satu benda regalia para bupati di tanah Sunda pada zaman Pasundan Eksiganda (zaman ketika sebagian tanah Sunda ada di bawah Wong Agung Ngeksiganda [Sultan Agung Hanyakrakusuma; orang agung dari Mataram] abad ke-17).

Selanjutnya tercatat nama instrumen musik gangsa. Istilah inipun tidak ada dalam kosa kata karawitan Sunda sekarang, tetapi kata ini terdapat dalam kosa kata karawitan Jawa. Istilah gangsa dalam kosa kata karawitan Jawa sekarang merupakan kata halus dari gamelan. Mungkin sebenarnya kata ini merupakan kata umum pada masa dahulu, selain dikenal istilah gamelan, baik di Sunda maupun di Jawa. Kata gangsa telah muncul tahun 862 seperti tercatat dalam Oud-Java Oorkonden VII (1913), sedangkan kata gamelan muncul dalam Bagus Turunan .

Instrumen musik kumbang sekarang di antaranya dapat dikenali dalam instrumen musik bernama sama di daerah Banten selatan, merupakan alat tiup dari tamiang (bambu kecil). Begitu pula dengan tarawangsa sekarang masih dikenal. Meskipun pada setiap masa seniman tarawangsa secara umum semakin berkurang, dan keseniannya semakin tidak dikenal di kalangan umum, tetapi instrumen musik ini sampai sekarang masih ada dan digunakan dalam konteks lama (upacara ritual) di daerah Rancakalong (Sumedang), Cibalong (Tasikmalaya), Lamajang (Bandung), dan Kanekes (Baduy). Di Rancakalong instrumen musik ini dinamakan ngekngek, merupakan onomatopi dari bunyi instrumen tarawangsa. Dalam kitab Kidung Adiparwa (dari zaman Dharmawangsa Teguh; Kadiri 991—1016), tarawangsa disebut dengan trewasa, dalam kitab Malat disebut trawasa, dan dalam Bagus Turunan disebut trawangsah .

Kalimat sada titila[r]ri[ng] bumi” mengandung pengertian bahwa bunyi-bunyi yang telah disebutkan sebelumnya (dan bunyi-bunyi lain yang tidak disebutkan dalam teks), kedengarannya seperti bunyi-bunyian (tabuh-tabuhan; kesenian) yang biasa ada di bumi (dunia). Ada juga yang terdengar seperti tatabeuhan jawa (tabuh-tabuhan orang Jawa). Mungkin yang dimaksud di sini adalah gamelan Jawa, meski dalam bentuk dan musikalitas yang berbeda dengan zaman sekarang.

Kemudian terdengar seperti
gobeng
yang ditingkahi instrumen musik cali[n]tuh
di
a[n]jung
. Dari istilahnya, instrumen musik gobeng sulit dikenali apa maksudnya, tetapi jika dilihat dari nama instrumen musik berikutnya yang menyertai dan meningkahinya, yaitu cali[n]tuh, dapat diduga bahwa instrumen musik tersebut adalah kolecer atau baling-baling seperti diterjemahkan Danasasmita, dkk. Kolecer
dan calintuh dalam kebudayaan di pedesaan Sunda seringkali dipasang di huma atau sawah dekat an[n]jung (saung ranggon dalam bahasa Sunda sekarang; dangau tinggi). Gobeng (kolecer) dan calintuh apabila tertiup angin terdengar berdengung dengan bermacam-macam jenis bunyinya.

Instrumen musik selanjutnya adalah kacapi. Instrumen musik ini sangat popular dalam karawitan Sunda sampai sekarang karena sangat praktis, secara musikal maupun secara ensemble. Kacapi telah dikenal dalam berbagai kebudayaan di Nusantara dengan beberapa variasi penyebutan dan bentuk instrumen musik, seperti kecapi (Melayu), kasapi (Dayak Ngaju), sampe (Dayak Kenyah), kucapi atau kulcapi (Batak-Karo), hasapi atau hapetan (Batak Toba) kudyapi (Tagalog Pilipina), kodyapi (Bisaya), kacaping (Makasar), dan sebagainya. Istilah kacapi telah muncul dalam kitab Arjuna Pralabda, Tantri, dan Kidung Harsawijaya .

Terakhir, pada akhir halaman ke-61 terdapat kalimat:

 

Nu buni pangwereg darma

ngarana sa(ng)hyang watang wayang

 

(Yang tersembunyi [yaitu] penggerak darma

bernama sanghyang watang wayang)

Sanghyang Watang Wayang adalah nama tempat di Kahyangan dalam alam pikiran spiritual manusia Sunda, minimal pada masa naskah ini ditulis. Kata “sanghyang” menunjukkan bahwa tempat ini sangat sakral, suci, dan dihormati. Kata “wayang” merupakan nama suatu jenis cerita dan seni pertunjukan. Kata “watang” berarti batang atau tonggak, serta bisa bermakna batang melingkar (wengku) sebagai penguat suatu benda. Kesenian wayang merupakan salah satu jenis kesenian yang mempunyai nilai ritual dan isi yang sangat dalam. Nama Sanghyang Watang Wayang dengan demikian pasti mempunyai makna filosofi yang tinggi, suatu tempat sakral dan suci seperti sakral dan sucinya suatu cerita dan pertunjukan wayang bagi masyarakat yang memahami dan melaksanakan filosofi wayang. Selain itu, pada halaman ke-47 naskah ini memberitahukan tentang nama motif kain panjang (wanita) yang dinamakan giri(ng)si(ng) wayang. Semua istilah kesenian tersebut, meski digambarkan di alam Kahyangan, tetapi hal tersebut adalah pengetahuan penulisnya, sehingga nama-nama kesenian yang disebutkannya merupakan nama-nama kesenian pada zaman penulisnya hidup.

Pun sapun mohon ampun parantos kumawantun…

Nedha hampura sapapanjangna….Bagea ka dulur sadayana…

RaHayu….Cag

Ahuunngg…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: