Kota Katon

Pada awalnya adalah kegelapan. Peradaban manusia berkembang di dalam remang-remang gua dan cahaya lilin yang menemani malam-malam mereka. Namun ada paradoks di sini. Di dalam malam-malam gelap tersebut, pencerahan justru muncul melalui tulisan yang penuh dengan permenungan mendalam soal kehidupan.

Malam hari adalah berkah. Udara dingin diikuti dengan pencahayaan remang. Malam hari adalah waktunya pencerahan. Di tengah dinginnya udara dan gelapnya dunia, pikiran manusia menari di atas kata, dan menerobos batas-batas kebodohan. Itulah malam hari manusia, sebelum dunia diterangi gemerlapnya cahaya, sebelum listrik ada, sebelum lampu menyala.

Di tengah gemerlap kota-kota modern, kegelapan pemikiran justru lebih terasa. Hati bertanya mengapa jarang ditemukan pemikir yang sungguh mencerahkan sekarang ini? Semuanya terjebak pada popularitas. Semuanya terjebak pada motivasi yang tanpa pernah secara kritis dimurnikan.

Inilah paradoks kota dan pemikiran modern. Di tengah gemerlap lampu, justru pikiran menjadi gelap dan dangkal. Listrik melahirkan perubahan besar pada cara manusia hidup, dan cara manusia berpikir. Perubahan yang tidak selalu ke arah pencerahan, tetapi lebih ke arah penggelapan. Teknologi dan listrik melahirkan kebodohan dan kedangkalan berpikir.

Kota dan Mental

Kedangkalan berpikir lahir bukan karena tidak adanya pendidikan, melainkan karena terlalu banyak pendidikan. Kedangkalan berpikir lahir bukan karena tidak adanya teknologi, melainkan karena terlalu banyak teknologi bertebaran. Paradoks masyarakat modern adalah, ketika dunia justru semakin rumit, manusia justru semakin sederhana di dalam kedangkalannya. Kedangkalan berpikir ini lahir dari miskinnya refleksi kritis di dalam berlimpahnya materi yang tersebar di kota-kota modern.

Teknologi menawarkan sejuta informasi. Namun gemerlapnya informasi itu justru membutakan orang-orang yang melihatnya. Kota-kota modern menawarkan rumah mewah yang justru memiskinkan mental penghuninya dalam isolasi satu sama lain. Kota besar yang dihuni oleh para manusia berpikiran kecil.

Kota-kota modern menawarkan jalan raya yang mulus dan besar. Namun jalan yang sama indahnya dilewati oleh orang-orang berniat jahat, rakus kuasa, dan penuh prasangka. Jalan raya dilewati mobil-mobil mewah yang semakin membuat semuanya tampak kumuh dilumuri kemunafikan dan arogansi. Jalan tol adalah jalan pintas, mirip seperti jalan pintas yang ditempuh para koruptor untuk mengangkangi birokrasi.

Kota modern menawarkan sekolah dengan banyak ragam dan gemerlap. Namun penghuni kota tersebut tidak tambah cerdas. Yang bertambah adalah ukuran kepala yang mencerminkan arogansi dan feodalisme ijazah. Anda bisa mencium bau feodalisme dan arogansi di sekolah-sekolah besar yang bertebaran di kota-kota modern.

Kota-kota modern adalah rumah bagi agama-agama besar dunia. Namun penghuni kota-kota modern jauh lebih tidak beradab dibandingkan dengan penghuni desa-desa di pinggir peradaban. Agama tidak menjadi garam yang mencerahkan, melainkan jadi pembenaran bagi tindak biadab dan penghancuran atas nama Tuhan. Di kota-kota modern, agama menjadi gincu yang menghiasi wajah ganas modernitas.

Kota-kota modern menawarkan trotoar besar bagi para pejalan kaki. Namun sarana transportasi justru tidak mendekatkan manusia, melainkan membuat orang semakin menjauh. Kota-kota modern menawarkan sarana transportasi tercanggih yang pernah ada di dalam sejarah manusia. Namun itu semua tidak berguna, karena kita semakin menjauh di dalam dekatnya ruang yang kita tempati. Kedekatan itu menjauhkan.

Kota-kota modern diisi banyak monumen untuk mengingat. Namun penghuninya justru mudah lupa. Warga kota adalah warga pelupa. Ingatannya pendek. Yang ada adalah pikiran jangka pendek, ke depan maupun ke belakang, tanpa ada mentalitas kritis reflektif yang menjadi pemicu lahirnya peradaban.

Kota-kota modern adalah ruang-ruang ekonomi. Pasar bertebaran. Namun kemiskinan dan kesenjangan sosial berkembang semakin besar. Bertambahnya pasar dan ruang-ruang ekonomi masyarakat justru mempermiskin rakyat kebanyakan yang sudah kalah bersaing, bahkan sebelum mereka mulai bertarung.

Paradoks

Paradoks menjadi udara dari kota-kota modern. Kota modern menandai ciri mendasar manusia yang ingin dilenyapkan oleh stabilitas, yakni dialektika abadi. Usaha untuk mencapai tujuan tumbang menghasilkan banyak hal yang berlawanan dengan tujuan itu sendiri. Kota modern adalah kota yang serba salah.

Yang serba salah dan paradoks itu bukan hanya kota, melainkan penghuninya, yakni manusia. Manusia adalah mahluk yang serba salah. Upaya menciptakan surga di dunia berakhir dengan terciptanya neraka yang lebih kejam. Upaya menghadirkan stabilitas justru melahirkan anarki yang bermuara pada kehancuran. Hidup ini memang serba salah.

Yang perlu dijaga adalah kesadaran akan keserbasalahan manusia ini. Hegel menyebutnya dialektika. Giddens menyebutnya kesadaran kritis untuk terus mempertanyakan praktek-praktek sosial. Saya menyebutnya keberanian untuk menerima ketidaksempurnaan hidup.



Wahai Tuhan…
Bila daging membusuk,
maka bisa diobati dengan GARAM
Tapi jika garamnya yang rusak
Dengan apa aku mengobatinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: