Garudeyamantra (Garudamukha-Sejarah Burung Pusaka))

Gàrudeyamantra, 3-4.

"Putih warna pahanya hingga bagian pusarnya, Merah warna dadanya hingga batang lehernya"

Sejak tanggal 1 Agustus 1995 yang lalu di seluruh Indonesia dan juga pada perwakilan-perwakilan atau Kedutaan Besar R.I di seluruh dunia, bendera merah putih dan berbagai hiasan seperti ider-ider, umbul-umbul merah putih telah berkibar. Merah putih kini berkibar di seluruh pelosok desa dan kota, kantor-kantor pemer

i

ntah, swasta, balai pertemuan dan rumah-rumah penduduk. Semuanya ini dilak

akukan untuk menyambut tahun emas kemerdekaan Republik Indonesia.

Berbagai perayaan mulai digelar untuk peringatan yang ke-50 ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, warna merah putih sangat mendominasi p

erayaan 17 Agustus 1995. Merah putih sebagai bendera nasional secara resmi telah berkibar pada saat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, 50 tahun yang silam dan pastilah bendera nasional ini akan selalu dan selamanya berkibar di atas bumi persada tercinta, Nusantara.

Di samping bendera merah putih, tidak dapat dipisahkan adalah lambang negara Garuda Pancasila. Bagaimanakah burung gagah perkasa ini bisa ditetapkan sebagai lambang negara? Kiranya dalam suasana menyambut dan memeriahkan tahun emas kemerdekaan Republik Indonesia, kita telusuri kembali makna Garuda yang dikenal p

ula sebagai burung merah putih baik dalam alam pikiran prasejarah, peninggalan purbakala, dalam karya sastra maupun pandangan hidup bangsa Indonesia di masa yang silam.

Bila kita telusuri peninggalan prasejarah di Indonesia, lukisan burung garuda atau bulu burung garuda dapat ditemukan pada nekara perunggu tipe Pejeng dan cetakan batu dari desa Manuaba. Kecuali burung garuda, pada masa itu telah dikenal pula beberapa jenis burung tertentu seperti enggang dan merak yang dianggap mengandung arti magis-simbolis. Di antara berbagai lukisan burung itu, hiasan burung garuda sangat digemari.
Burung garuda adalah burung matahari atau burung rajawali yang dianggap sebagai lambang dunia atas (Sutaba, 1

976,14, Van der Hoop, 1949:178).

Lukisan atau relief burung garuda dikenal pula pada masa prasejarah Hindia, yakni ditemukannya lukisan di Harappa (lembah sungai Sindhu) berupa gambar seekor burung garuda yang sedang membabarkan sayapnya dan kepalanya berpaling ke arah kiri. Di atas masing-masing sayapnya terdapat beberapa ekor ular. Burung elang atau garuda yang dilukiskan bersama-sama ular merupakan dasar bentuk binatang garuda yang merupakan wahana dewa Viûóu di India, dilukiskan melayang-layang mencucuk seekor ular di paruhnya (Wiryosuparto, 1956: 21).
Selanjutnya di dalam Ågveda yang meru

pakan sumber ajaran agama Hindu dilukiskan berbagai aspek keagungan Tuhan Yang Mahaesa dengan berbagai nama atau wujud seperti Agni, Yama, Varuna, Mitra dan Garutma atau garuda. Kemahakuasaan-Nya bagaikan garuda keemasan yang menurunkan hujan menganugrahkan kemakmuran (Ågveda I.164.46,47,52).

Dalam perkembangan sejarah kebudayaan Nusantara, burung garuda yang terkenal dalam wiracarita Hindu ternyata me

mpengaruhi kesenian Indonesia (Stutterheim,1926:333), misalnya Baca lebih lanjut

Iklan

Pelestarian bukanlah sikap antikuarianisme yang memandang masa lalu dalam tinjauan romantisme. Pelestarian mencakup pula di dalamnya transformasi dan revitalisasi

“Dengan belajar sejarah, kita jatuh cinta”

(Kuntowijoyo)
Pendahuluan
Kebudayaan atau dalam bentuknya yang lebih halus, peradaban, bergerak melebar dalam ruang dan memanjang dalam waktu. Filsuf sejarah, seperti Oswald Spengler (1880-1936) dan Arnold Toynbee (1889-1975) menggambarkan gerak peradaban itu seperti siklus. Sejarah lingkungan budaya atau peradaban berjalan melintasi suatu lingkaran, yaitu muncul, berkembang, dan mundur. Orang sering berkata, “l’histoire se repete (sejarah berulang)”. Pernyataan tersebut cenderung menyesatkan. Sebagai post eventum (sejarah sebagai peristiwa), sejarah terjadi sekali saja. Pengulangan yang dapat diamati terletak pada polanya. Karena bersifat khas (uniqueness), yang ada hanyalah kemiripan-kemiripan. Tidak pernah ada kejadian yang benar-benar sama.
Perubahan yang terjadi dalam bentuk-bentuk peradaban merupakan historical necessity (keniscayaan sejarah). Dengan kata lain, sunnatullah (hukum alam). Sesuatu yang pada mulanya dipersepsikan sebagai modern dan mutakhir pada akhirnya akan menjadi sejarah. Dalam proses-proses itu, ada yang mengalami kepunahan, dan ada pula yang mampu bertahan dengan kemampuan adaptifnya.
Kehidupan sosial manusia berporos dalam tiga dimensi waktu, yaitu masa lampau, masa kini dan masa depan. Apa yang kita pahami tentang hari ini, kesadaran diri, dan penilaian terhadap “orang lain” (the other peoples) terbentuk oleh pengalaman masa lalu (the past). Akumulasi dari pengalaman yang pernah dialami membentuk pengetahuan tentang masa lampau. Dengan demikian, sejarah dengan sendirinya menjadi barometer perubahan.
Peninggalan Sejarah sebagai Sumber Sejarah
Dalam studi ilmu sejarah, dikenal ada tiga fakta, yaitu Baca lebih lanjut