Petruk Dan Jatidiri Bangsa

Dalam perkembangannya, tidak semua bangsa di dunia semata-mata adalah hasil perkembangan dari penduduk pribuminya. Melainkan sebagai hasil interaksi dalam jangka waktu yang lama. Seperti Jepang misalnya. Dalam, sejarah kita tentu mengenal bahwa bangsa Jepang yang ada sekarang bukanlah semata-mata lahir dari peradaban pribumi asli Jepang yaitu bangsa Ainu. Tetapi lahir dari sebuah interaksi dengan bangsa tetangganya, Cina dan Korea.

Demikian juga sang negara adidaya, Amerika Serikat, yang dengan terang menunjukkan bahwa negeri Paman Sam ini dibangun oleh para pendatang dan bukannya oleh pribumi yang notabene, sekarang ini, penduduk asli Amerika lebih merasa tertekan jika dibandingkan dengan para pendatang.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Dari pelajaran yang pernah kita terima di sekolah, Indonesia yang ada sekarang ini lahir dari “hijrah”nya bangsa Tiongkok yang bermukim di Yunan ke arah selatan. Terbagi dalam dua gelombang, proto melayu dan deutero melayu.

Bangsa melayu yang menempati seluruh pojok daerah yang lantas disebut Nusantara kemudian beranak pinak, berkembang biak dan sejalan dengan teori evolusi, bercabang menjadi berbagai macam suku bangsa.

Itu saja masih belum cukup. Lagi-lagi interaksi dengan Baca lebih lanjut

Petruk Mencari Jatidiri 3 (Sinawang)

Sudah bpetruk soloerabad-abad Petruk menyaksikan perubahan jaman. Berjuta-juta tingkah-polah manusia dia saksikan. Ratusan generasi sudah dia lalui. Tetap saja dia tak bisa paham sepenuhnya bagaimana jalan fikiran makhluk yang bernama manusia.

Sebagai salah satu punakawan. Petruk sudah mengabdi kepada puluhan”ndoro” (tuan), sejak jaman Wisnu pertama kali menitis ke dunia. Hingga saat Wisnu menitis sebagai Arjuna Sasrabahu, menitis lagi sebagai Rama Wijaya, menitis lagi sebagai Sri Kresna.

Petruk hanya bisa tersenyum kadang tertawa geli, dan sesekali melancarkan nota protes akan kelakuan “ndoro-ndoro” (tuan-tuan)-nya yang sering kali tak bisa diterima nalar. Tapi ya memang hanya itu peran Petruk di mayapada ini. Dia tidak punya wewenang lebih dari itu. Meskipun sebenarnya kesaktian Petruk tidak akan mampu ditandingi oleh tuannya yang manapun juga.

 

Berbeda dengan Gareng yang meledak-ledak dalam menanggapi kegilaan mayapada, berbeda pula dengan Bagong yang sok cuek dan selalu mengabaikan tatakrama. Petruk berusaha lebih realistis dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi. Meskipun nyeri dadanya acapkali muncul saat melihat kejadian-kejadian hasil rekayasa ndoro-ndoro nya.

Siang itu Petruk sedang membelah kayu bakar, guna keperluan memasak isterinya. Sudah seminggu lebih pasokan elpiji murah dan minyak tanah tak sampai ke desanya.

Di desa Karang Kedempel jaman kontemporer seperti Baca lebih lanjut

Petruk Mencari Jatidiri 2

Petruk Truk, Bapak hilang, Bapak hilang!!!” suara cempreng yang sangat dikenal Petruk, suara Gareng. Yang tergopoh-gopoh datang dengan nafas terengah. “Romo Semar hilang, Romo Semar hilang!!!”

Petruk tersenyum-senyum saja sambil menikmati hisapan terakhir rokok siongnya. Kemudian berdiri dan mengikat kayu bakar yang telah dibelahnya

“Hei… Romo Semar hilang! Romo Semar hilang! RomoSemar hilang!” Gareng mengulang lagi dengan nada lebih sengit. “Apa sih yang dimaui si tua udel bodong itu? Pakai acara ngilang segala. Apa dia memang nggak tahu atau pura-pura nggak tahu kalau desa kita ini masih membutuhkan keberadaannya? Desa kita yang semakin rusak ini membutuhkan keprigelannya!”

Tapi Petruk memang selalu lebih cool dalam menanggapi permasalahan. Dia hanya tersenyum sambil melirik kakaknya. Kemudian malah masuk ke dalam rumah.

“Dasar Petruk Kanthong Bolong! Kamu ini memang nggak punya telinga! Nggak punya perasaan! Nggak punya keprihatinan! Romo Semar hilang! Bapak kita hilang! Dengar nggak sih kamu ini?” Atas nama segala kejengkelan, kalimat Gareng jadi berbelok memaki adiknya.

Namun Baca lebih lanjut

Petruk Mencari Jati Diri 1

“Kamu ini kenapa sih Gar? Nggak jelas kamu bicara apa,” suara Bagong makin Petrukterdengar aneh karena berbicara sambil mengunyah gumpalan gumpalan singkong

“Dasar anak nggak tahu adat, silahkan kamu panggil aku dengan sebutan Reng, atau Gar, atau Gareng, atau apa saja, tapi memanggil Romo dengan dengan lansung menyebut Semar tanpa embel-embel, sangat tidak sopan, tahu?” kemarahan Gareng semakin menjadi

“Gareng ini ngawur, nama Semar kok dibilang nggak sopan.Untung aja Semar nggak ada di sini. Ck ck ck bathuk mu panas barangkali Reng, Truk carikan dhadap serep untuk obat demam Gareng.” Senyum Petruk semakin lebar mendengar jawaban Bagong yang terdengar asal-asalan.

 

Lain dengan Gareng, dia semakin umup, semakin mendidih, “Tobat, tobat Gusti. Hei yang tidak sopan itu caramu memanggil Romo. Tidak boleh njangkar begitu, segala sesuatu itu ada adab sopan santunnya, ada tata caranya, tidak boleh Baca lebih lanjut